Produsen Tahu Sumedang Sempat Mogok Produksi Selama 3 Hari, Berharap Pemerintah Memperhatikan

Pengusaha atau produsen tahu sumedang sempat mogok produksi selama tiga hari setelah harga bahan bakunya naik signifikan.

Penulis: Hilman Kamaludin | Editor: Giri
tribunjabar/hilman kamaludin
Produsen tahu sumedang terimbas naiknya harga bahan baku berupa kedelai yang mengakibatkan penurunan omzet. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Pengusaha atau produsen tahu sumedang sempat mogok produksi selama tiga hari setelah harga bahan bakunya naik signifikan. Mahalnya harga kedelai berdampak pada penurunan omzet.

Awalnya, harga kedelai impor itu hanya Rp 7.400 per kilogram. Tetapi sejak satu bulan yang lalu, harga kedelai naik hingga tembus Rp 9.400 per kilogram.

Pemilik Pabrik Tahu Sari Asih di Kecamatan Pamulihan, Deni Mulyawan (45), mengatakan, aksi mogok produksi selama tiga hari itu setelah ada imbauan dari Gabungan Koperasi Produsen Tahu dan Tempe Indonesia (Gakopindo) dan Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Kopti) Jawa Barat.

"Jadi kita disarankan untuk berhenti dulu produksi supaya jadi planning untuk manaikkan harga di pasar," ujarnya saat ditemui Tribun di pabriknya, Minggu (1/3/2021).

Menurutnya, dengan cara aksi mogok produksi selama tiga hari itu, otomatis tahu di pasaran bakal kosong. Akibatnya, konsumen mempertanyakan kekosongan makanan khas Kabupaten Sumedang tersebut.

Baca juga: Vaksin Bikinan Sinovac Mulai Didistribusikan Ke-34 Provinsi di Indonesia, Siap Vaksinasi Massal?

Baca juga: INNALILLAHI, Ketua Fraksi PAN MPR Ali Taher Meninggal Diduga Covid, Pagi Teleponan dengan Zulkifli

"Selama tiga hari itu tahu kosong, nah konsumen otomatis bakal menanyakan kenapa kosong? Karena harga (kedelai) naik bakal berdampak pada kenaikan harga tahu per biji," kata Deni.

Ia mengatakan, aksi mogok produksi itu juga sebagai bentuk protes kepada pemerintah agar bisa memberikan solusi untuk membantu para pengusaha tahu supaya tetap bertahan.

"Bantuannya bisa saja subsidi atau apa yang penting kami tetap bertahan, karena selama ini kan enggak ada," ucapnya.

Aksi mogok produksi juga dilakukan oleh pemilik pabrik tahu Sari Hantap, Apep Saeful Rohman (60).

Dia mengaku aksi tersebut karena kenaikan harga kedelai sangat berpengaruh terhadap penurunan omzet.

"Hari ini baru produksi lagi, kemarin kan kita demo (mogok produksi) selama tiga hari," kata Apep.

Baca juga: 18 Pelanggar Jalani Sanksi Push Up karena Terjaring Operasi Yustisi Satgas Covid-19 Pangandaran

Baca juga: KABAR Aa Gym dari RSPAD Gatot Subroto Jalani Perawatan Covid-19 Hari Ke-5, Suara Gemetar dan Batuk

Menurutnya, aksi mogok produksi tersebut supaya mendapat perhatian dari pemerintah karena selama satu bulan produksi, pihaknya mengalami penurunan omzet hingga 50 persen.

"Saya melakukan pemasaran ke Pasar Atas Cimahi dan punya jongko juga di Pasar Gedebage. Tapi kemarin pendapatan menurun," ucapnya. (*)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved