Pengrajin Tempe Rugi, Harga Kedelai Melambung, Pilih Mogok Jualan, Siap-siap Harga Tahu Tempe Naik

Kenaikan harga kedelai diprediksi akan terus melambung dan semakin tidak terkendali

Penulis: Cipta Permana | Editor: Siti Fatimah
zoom-inlihat foto Pengrajin Tempe Rugi, Harga Kedelai Melambung, Pilih Mogok Jualan, Siap-siap Harga Tahu Tempe Naik
Andri M Dhani
ilustrasi kedelai- Kian meroketnya harga kedelai, membuat ratusan pengrajin tahu dan tempe di bawah naungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (KOPTI) Kota Bandung, lakukan mogok produksi dan mogok jualan selama tiga hari mulai Jumat (1/1/2021) hingga Minggu (3/1/2021). 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG  - Kian meroketnya harga kedelai, membuat ratusan pengrajin tahu dan tempe di bawah naungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (KOPTI) Kota Bandung, lakukan mogok produksi dan mogok jualan selama tiga hari mulai Jumat (1/1/2021) hingga Minggu (3/1/2021). 

Kenaikan harga pun diprediksi akan terus melambung dan semakin tidak terkendali, sebagaimana surat edaran PUSKOPTI Jawa Barat Nomor 059/K-PUSKOPTI/XII/2020 tanggal 28 Desember 2020.

Aksi tersebut merupakan hasil kesepakatan dan tindak lanjut dari adanya surat ajakan PUSKOPTI DKI Jakarta Nomor 01/PUSKOPTI/DKI/XII/2020 tentang himbauan mogok produksi pengrajin tempe tahu se-DKI dan sekitarnya dengan damai. Serta hasil rapat pengurus dan pengawas serta anggota Gakoptindo melalui zoom meeting tanggal 28 Desember 2020 lalu. 

Baca juga: Bisa Jadi Makanan Sehat? Begini Cara Mengolah Mi Instan yang Tepat

Saat dikonfirmasi, Sekretaris KOPTI Kota Bandung, Ujang Barnas mengatakan, membenarkan rencana aksi mogok massal selama tiga hari tersebut.

Namun, pihaknya meluruskan bahwa rencana mogok produksi dan mogok jualan tempe tahu tersebut, bukan sebagai upaya menuntut pemerintah untuk dapat menurunkan harga kedelai impor dari Amerika yang melambung tinggi.

Tetapi merupakan sosialisasi kepada produsen dan pembeli akan adanya penaikan harga hasil olahan atau produksi dari para pengrajin.

"Sebetulnya kita mengajak mogok ini, bukan hanya untuk anggota KOPTI Kota Bandung saja tapi seluruh pengrajin tahu dan tempe se-Bandung Raya di bawah koordinasi KOPTI. Dalam aksi ini kita sekaligus memberitahukan akan adanya penaikan harga hasil olahan yang dikelola pengrajin tempe dan tahu," ujarnya saat di temui di Kantor KOPTI Kota Bandung, Jalan Babakan Ciparay, Kota Bandung, Rabu (30/12/2020).

Baca juga: Tahu dan Tempe Langka, Bikin Emak-emak dan Pedagang Pecel Pusing Tujuh Keliling

Ujang mengatakan, saat ini harga kedelai yang didistribusikan KOPTI Bandung kepada 200-an pengrajin tempe tahu di Kota Bandung, telah mencapai Rp 9.050 per kilogram.

Harga tersebut terus merangkak naik sejak beberapa hari lalu dari harga awal Rp 7.800 per kilogram. Biaya tersebut sudah termasuk biaya angkut, kemas dan penyusutan.

"Kalau harga di pasaran mungkin ada beberapa yang menetapkan harga berbeda, tapi selisihnya tidak terlalu jauh. Bahkan untuk jenis kedelai dengan kualitas di bawah nomor satu atau yang kurang bagus dari kedelai impor merk BOLA dari Amerika yang selama ini digunakan oleh KOPTI, harga jualnya di bawah harga standar," ucapnya.

Oleh karenanya, kenaikan harga kedelai yang terus terjadi, tidak sebanding dengan harga jual tahu atau tempe yang rata-rata dijual kepada para konsumen, dengan harga Rp 5000 - Rp 7000 perbungkus, yang isinya 10 buah tahu. Maka bila tidak ada penyesuaian, kondisi ini berpotensi menyebabkan kerugian besar di tingkat pengrajin, bahkan hingga gulung tikar. 

"Kalau terus begini kondisi ini (kenaikan harga) berat bagi mereka (pengrajin) urtuk dapat mempertahankan usahanya. Para pengrajin pun meminta agar adanya kenaikan pada hasil olehan tempe tahu dari 10-30 persen dari harga jual di tempat produksi hingga ke tangan konsumen. Maka aksi mogok ini sekaligus memberitahukan konsumen akan kenaikan harga, karena harga kedelai naik," ujar Ujang.

Baca juga: Muncul Klaster Pesantren, Kasus Covid-19 di Kabupaten Cirebon Hampir Mencapai 4000 Orang

Disinggung terkait respon pengrajin dan pedangang tempe tahu, Ujang mengatakan, rata-rata para pengrajin dan pedangang tempe dan tahu mendukung rencana mogok produksi tersebut.

Bahkan, menurutnya rencana mogok tersebut, justru lahir dan disampaikan oleh para pengrajin dan pedagang kepada KOPTI dan PUSKOPTI dan Gakoptindo.

"Dari awal mereka yang minta, katanya hayu demo lagi, kaya dulu. Mudah-mudahan perbaikan ke kita, kemarin ada manajer meeting dari Puskopti dan Gakoptindo, di Puskopti DKI Jakarta juga sepakat mau mogok juga," ucapnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved