Tahu dan Tempe Langka, Bikin Emak-emak dan Pedagang Pecel Pusing Tujuh Keliling
Kaum ibu rumah tangga dan beberapa pedagang makanan kaki lima yang menjadikan tempe tahu goreng sebagai salah satu bagian dari lauk dagangannya
Penulis: Cipta Permana | Editor: Siti Fatimah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Meroketnya harga kedelai, membuat ratusan pengrajin tahu dan tempe di bawah naungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (KOPTI) Kota Bandung menggelar mogok produksi dan mogok jualan selama tiga hari mulai Jumat (1/1/2021) hingga Minggu (3/1/2021).
Dampak tersebut, membuat kaum ibu rumah tangga dan beberapa pedagang makanan kaki lima yang menjadikan tempe tahu goreng sebagai salah satu bagian dari lauk dagangannya, dibuat pusing menghadapi situasi tersebut.
Anita Tresnaningsih (55) warga Riung Bandung, mengaku sejak adanya informasi pedagang tempe tahu menggelar mogok sejak kemarin, dirinya kesulitan untuk mencari pedagang yang menjual kedua pangan yang menjadi favorit bagi seluruh anggota keluarganya tersebut, bahkan pedagang tahu keliling yang menjadi andalannya pun, sudah tidak lagi berjualan.
Baca juga: KRONOLOGI DETIK-DETIK Pemuda Sukabumi Digebugi dan Dibacok Geng Motor, Jatuh Tak Bisa Melawan
"Iya gara-gara mogok itu, dari kemarin saya susah nyari tukang tahu sama tempe, biasanya ada si emang yang keliling tiap pagi, malah dari kemarin juga engga keliatan ikutan mogok juga mungkin. Karena ini makanan favorit keluarga, malahan saya nyari selain ke warung-warung sampai ke pasar juga tetep engga ada, bingung juga. Akhirnya Cuma bisa pasrah lah nunggu tanggal 4 aja, kan mogoknya katanya sampai tanggal 3 (Januari)," ujarnya saat ditemui di rumahnya, Sabtu (2/12/2021).
Hal senada juga di keluhkan oleh Mas Anto, salah seorang penjual Pecel Lele di Kawasan Derwati, Kecamatan Rancasari. Menurutnya, tempe dan tahu goreng merupakan sebuah 'pakem' yang sudah melekat dan harus ada dalam menu Pecel Lele di manapun.
Oleh karena itu, dengan adanya situasi ini, dirinya terpaksa harus mensiasati kebutuhan dua lauk tersebut untuk memenuhi keinginan para pelanggannya.
Baca juga: Harga Ganti Rugi Japek II Tidak Sesuai, Warga Citaman Blokir Jalan Badami-Loji
"Tahu tempe di menu Pecel Lele itu, ibarat kata Sayur tanpa Garam, jadi pasti ada yang kurang lengkap kalau keduanya itu engga ada dalam satu piring dengan Lele goreng dan nasi panas. Karena kemarin engga nemu yang jual, jadi saya engga kasih itu (tempe tahu goreng) ke pelanggan, ada yang nerima tapi ada juga yang malah nanyain, ada juga yang terus protes gitu, sampai dia mau bawa tahu tempe yang ada di rumahnya untuk di goreng disini," ujarnya sambil tertawa sambil mempersiapkan jualannya, Sabtu (2/1/2021).
Karena enggan kembali mengecewakan para pelanggannya, dirinya pun memutuskan untuk mencari dan berburu tahu dan tempe hingga ke Pasar Lembang.
Khawatir, dampak mogok terus berlanjut lebih dari tanggal 3 Januari 2021, dirinya pun segera membeli kedua lauk tersebut untuk persediaan kebutuhan hingga tiga hari kedepan.
Baca juga: Muncul Klaster Pesantren, Kasus Covid-19 di Kabupaten Cirebon Hampir Mencapai 4000 Orang
"Kemarin dapat info dari temen sesama pedagang pecel juga katanya di Pasar Lembang ada, jadi aja tadi subuh langsung kesana, soalnya di Bandung udah susah, kalau pun ada pasti ada yang borong. Karena harganya cuma beda Rp.100-200 per tahu dan tempe dari harga sebelumnya, jadi sekalian aja beli buat stok tiga harian," ucapnya.
Ia berharap, pemerintah memiliki solusi untuk menyelesaikan masalah ini, mengingat kedua komoditas tersebut, sangat diminati oleh berbagai kalangan masyarakat.
Bahkan menjadi andalan khususnya masyarakat menengah ke bawah untuk memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari.
"Ya harapannya sih pingin normal lagi lah, maka dari itu, saya sebagai rakyat kecil minta ke pemerintah agar cari cara biar situasi ini normal lagi aja, soalnya tahu dan tempe ini andalan masyarakat kita," katanya.