Breaking News:

Coffee Break

Korona Sudah Dekat

Barangkali judul tulisan saya ini juga tidak tepat benar. Bukan korona sudah dekat, melainkan sudah menghampiri.

Korona Sudah Dekat
istimewa
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

MENDADAK saya ingat judul film nasional, Kiamat Sudah Dekat, yang kemudian juga dibuat sinetronnya dengan judul yang sama. Ini film awal 2000-an, yang berkisah tentang seorang rocker yang jatuh cinta kepada putri seorang haji. Oleh Pak Haji, sang rocker ditantang untuk bisa salat, mengaji, dan menguasai ilmu ikhlas, dalam tempo dua minggu.

Sang rocker kemudian berusaha mati-matian memenuhi tantangan itu. Perubahi an si rocker membuat heran teman-temannya. Ketika ditanya, dengan bahasa diplomatis dia menjawab, “Kiamat sudah dekat, Men!”

Tapi saya tidak akan bercerita tentang film Kiamat Sudah Dekat. Saya memakai judul itu untuk membuat ungkapan korona sudah dekat karena fakta menunjukkan, setelah sekitar sepuluh bulan, bukannya mereda, wabah korona malah makin menggila.

Baca juga: Ujian dari Rumah

Saya tidak akan menyebut angka karena tiap hari data tentang penderita korona tetap dibeberkan dengan nyata. Saya hanya ingin memberikan sedikit gambaran perbandingan situasi di awal-awal wabah dengan keadaan akhir-akhir ini.

Dulu kita umumnya merasa bahwa korona begitu jauh karena hanya menyerang orang-orang tertentu: mereka yang baru datang dari luar negeri, mereka yang baru melakukan kontak dengan orang yang baru datang dari luar negeri, mereka yang sering bepergian antarkota, dan lain-lain.

Kita membaca atau mendengar kabar mengenai orang-orang yang positif terkena virus korona, tapi kita merasa korona masih jauh karena kita baik-baik saja dan badan kita sehat-sehat seperti biasa.

Ketika pembatasan sosial membuat ekonomi memburuk dengan cepat, aturan dilonggarkan dan masyarakat mulai melakukan banyak aktivitas seperti sebelum wabah, dengan protokol yang ketat. Lalu terjadi perbenturan pendapat antara mereka yang lebih mementingkan kesehatan dan mereka yang lebih mengutamakan ekonomi.

Namun, apa pun keputusan yang berwenang, ada kesan bahwa masyarakat sudah tidak terlalu peduli, mungkin juga tidak waspada, bahwa korona masih ada di sekitar kita. Orang-orang berdemonstrasi di berbagai kota tanpa mengindahkan protokol kesehatan. Duh, bagaimana mungkin sebuah demo masif saling menjaga jarak di antara mereka setidaknya satu meter. Mereka merasa bebas-bebas saja saling berpegangan tangan dan berkumpul untuk berorasi dan ... selfi.

Lalu, ketika Bang Toyib kembali, setelah tiga lebaran tak pulang-pulang, para pemujanya beramai-ramai menyambutnya dan tiap hari dia mengumpulkan ratusan, mungkin ribuan, orang dalam keriuhan kerumunan, mulai di acara ceramah hingga resepsi nikah.

Baca juga: Mobil Ala Transformer, Maskara untuk Desa Mandiri, Wagub Jabar; Mobil Multifungsi untuk Bangun Desa

Tak ada upaya pencegahan, apalagi pelarangan, dari polisi—entah mengapa—baik terhadap demo maupun penyambutan Bang Toyib, tidak seperti terhadap rencana PSSI untuk memutar lagi kompetisi. Padahal nyata bedanya: demo dan penyambutan itu jelas-jelas mengumpulkan banyak orang, sedangkan kompetisi sepak bola tidak karena penonton memang tidak dibolehkan masuk ke stadion.

Entah benar-benar berkorelasi secara langsung entah tidak, setelah demo dan berbagai acara yang terkait dengan Bang Toyib itu, jumlah orang yang positif korona terus bertambah dan membuat rekor-rekor sebelumnya pecah.

Lalu, tibalah saatnya ketika orang terdekat kita ternyata ada yang positif korona. Kita pun terkejut dan bingung. Apakah kita terkena juga?

Hari ini sudah dua minggu saya tidak masuk kantor. Saya bekerja dari rumah. Kalau selama ini setelah paling lama sepuluh hari di rumah saya sudah berangkat lagi ke kantor, kali ini bahkan saya belum tahu kapan masuk kantor lagi.

Barangkali judul tulisan saya ini juga tidak tepat benar. Bukan korona sudah dekat, melainkan sudah menghampiri. Tidak hanya di kantor, tapi juga di tempat-tempat kita pergi, bahkan boleh jadi di lingkungan kita sendiri. Korona sudah mengancam, atau bahkan sudah mengelus-elus tengkuk kita, seraya berbisik: sekarang giliran kamu.

Apa solusinya? Ah, sambil menunggu datangnya vaksin, tanpa meninggalkan protokol kesehatan, alangkah baiknya kita pun menjalankan tiga tantangan Pak Haji kepada sang rocker: tingkatkan salat, rutinkan mengaji, dan kuasai ilmu ikhlas. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved