Breaking News:

Cerpen

Perkutut di Pangkuan Laksmita

Telah berhari-hari Laksmita mengamati perkutut itu. Jinak, perkutut itu senantiasa berkeliaran di sekitar telapak kaki Laksmita.

ILustrasi Cerpen Doa doa Har 

Cerpen S. Prasetyo Utomo

MENUKIK dari dahan pohon randu alas, seekor perkutut terbang rendah, hinggap di pangkuan Laksmita. Perempuan yang hamil muda itu tengah duduk di pendapa, membiarkan perkutut itu bertengger di pangkuannya. Ia tak ingin menangkap perkutut itu dan mengurungnya dalam sangkar. Telah berhari-hari Laksmita mengamati perkutut itu. Jinak, perkutut itu senantiasa berkeliaran di sekitar telapak kaki Laksmita. Tidak beranjak ke mana-mana.

Baru pagi ini perkutut hinggap di pangkuan Laksmita. Burung itu seperti ingin ditangkap dan dipelihara dalam sangkar. Tetapi Laksmita tak ingin menangkapnya. Ia ingin mendengar kicau perkutut itu dari dahan pepohonan. Tenang, tanpa rasa takut, perkutut itu bertengger di pangkuan Laksmita. Seperti sudah sangat mengenal Laksmita, burung itu bermanja-manja di pangkuan. Tiap pagi Laksmita menggenggam ketan hitam dan jewawut, ditebar di pelataran, segera dipatuki perkutut itu, pelan, nikmat, dan tak tergesa-gesa. Perkutut itu menjadi bagian hidup Laksmita.

Broto memperhatikan perkutut itu dan beralih menatap perangai istrinya yang penuh kesabaran.

"Sepertinya dulu perkutut ini tak pernah hinggap di pelataran?" Broto menggugat. Ia ingat, ketika gadis dulu, Laksmita seringkali berada di tepi sendang, setelah mencuci dan mandi. Tetapi perkutut itu tak pernah menampakkan diri. Yang hinggap di antara dahan pepohonan randu alas adalah burung kacer. Broto pernah mengikuti terbang burung kacer dari rumah orang tuanya ke pelataran rumah Laksmita, yang mengantarkannya bertemu dengan gadis itu, dan kemudian menikahinya.

"Perkutut ini sudah lama datang padaku melalui mimpi," kata Laksmita, seperti ingin menelan kembali kata-katanya.

"Aku juga telah lama datang dalam mimpimu?"

Laksmita menatap teduh Broto. "Engkau datang dalam mimpiku, empat puluh hari menjelang pertemuan kita."

"Kenapa kau tak pernah cerita?"

"Aku tak ingin mendahului kehendak Yang Mencipta Mimpi."

Halaman
123
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved