Breaking News:

Modus Pencucian Uang Berkembang Pesat, Saat Pandemi Transaksi Mencurigakan di Pasar Modal Melonjak

Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK) mencatat ada lonjakan kasus laporan transaksi mencurigakan di Pasar Modal hingga 240%

Editor: Siti Fatimah
ISTIMEWA

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pandemi Covid-19 juga memunculkan transaksi mencurigakan di pasar modal.

Tak main-main, jumlah transaksi mencurigakan di pasar modal ini mengalami lonjakan drastis selama masa pandemi virus corona Covid-19.

Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK) mencatat ada lonjakan kasus laporan transaksi mencurigakan di Pasar Modal hingga 240%.

Dikutip TribunJabar.id dari Kontan.Id, jika tahun lalu pada periode yang sama hanya ada 10 laporan, pada tahun ini selama masa pandemi ada 34 laporan transaksi mencurigakan di pasar modal.

Masuk Pantai Pangandaran Tak Pakai Masker, 48 Warga dan Wisatawan Kena Tegur, 30 Lainnya Kena Sanksi

Hal ini diungkapkan oleh Ketua PPATK Dian Ediana Rae dalam diskusi Konfrensi Hukum Virtual Aspek Hukum Penerapan Ekonomi Digital yang digelar oleh Legalacces.id, di Sabtu, 26 September 2020.

"Kenaikan transaksi mencurigakan terutama terjadi pada Mei-Juni," kata Dian Ediana Rae.

Hanya saja ia tidak memperinci bentuk transaksi mencurigakan yang ia maksud karena laporan PPATK merupakan laporan intelijen.

Pada kesempatan itu Dian juga mengungkapkan upaya PPATK untuk melacak transaksi mencurigakan yang terjadi di industri e-commerce atau Perdagangan Dengan Sistem Elektronik (PMSE).

Karena itulah saat ini PPATK tengah menyusun aturan agar bisa meminta pelaku PMSE untuk melaporkan transaksi mencurigakan.

Potensi Tsunami 20 Meter, Ini Kata Taruna Siaga Bencana Pangandaran, Relawan Terlatih Disiapkan

Ia mencontohkan misalnya ada transaksi sebuah lukusan atau barang tertentu seharga Rp 10 miliar, di situs online.

Jika transaksi itu dilaporkan oleh PMSE, maka PPATK akan menelusuri transaksi itu apakah nilai wajar dari objek transaksi dan siapa pelaku transaksi dan lain-lain.

Untuk itulah PPATK mengimbau para pelaku PMSE turut menerapkan standar penanganan risiko dengan know your customer (KYC) baik pedagang maupun konsumen di ecommerce tersebut.

Dian mengakui saat ini modus pencucian uang makin berkembang pesat.

Dalam identifikasi PPAT, ada kecenderungan pelaku professional money launderer terutama para ahli bidang keuangan dan ahli hukum.

Ia mencontohkan transaksi pencucian uang profesional ini biasanya melibatkan pengacara, notaris, akuntan publik, juga konsultan keuangan.

Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved