Kamis, 23 April 2026

Masih Dilihat sebagai Simpan Pinjam, Koperasi Jabar Kian Berkembang

Stigma koperasi sebagai tempat pinjam uang belum bergeser, meski ribuan koperasi di Jawa Barat bergerak di sektor usaha riil

Penulis: Nappisah | Editor: Siti Fatimah
Tribun Jabar/Nappisah
KOPERASI - Workshop Media "Cerita Koperasi Desa Jadi Berita Bermakna", di Luxton Hotel, Rabu (22/4/2026). Stigma koperasi sebagai tempat pinjam uang belum bergeser, meski ribuan koperasi di Jawa Barat bergerak di sektor usaha riil, dari produsen, pemasaran, hingga jasa yang menembus pasar ekspor. 

Ringkasan Berita:
  • Stigma koperasi sebagai tempat pinjam uang belum bergeser, meski ribuan koperasi di Jawa Barat bergerak di sektor usaha riil
  • Berdasarkan data per akhir Desember 2025, jumlah koperasi di Jawa Barat tercatat sekitar 38.060 unit
  • Stigma negatif terhadap koperasi juga dipicu oleh maraknya kasus atau oknum yang mengatasnamakan koperasi, terutama di sektor simpan pinjam.

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
 
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Stigma koperasi sebagai tempat pinjam uang belum bergeser, meski ribuan koperasi di Jawa Barat bergerak di sektor usaha riil, dari produsen, pemasaran, hingga jasa yang menembus pasar ekspor.

Hal itu disampaikan Supriadi, Kepala Bidang Pemberdayaan Koperasi pada Dinas Koperasi dan Usaha Kecil (Diskuk) Provinsi Jawa Barat, dalam acara Workshop Media "Cerita Koperasi Desa Jadi Berita Bermakna", di Luxton Hotel, Rabu (22/4/2026).  

Ia menilai, persepsi publik yang sempit menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan koperasi ke depan.

“Kalau bicara koperasi, kebanyakan langsung ke simpan pinjam. Padahal jenis usaha koperasi itu banyak ada konsumen, produsen, jasa, sampai pemasaran,” ujar Supriadi.

Berdasarkan data per akhir Desember 2025, jumlah koperasi di Jawa Barat tercatat sekitar 38.060 unit.

Dari angka tersebut, sekitar 33.405 merupakan koperasi eksisting di luar program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

Kendati demikian, tidak semuanya aktif. Dari total koperasi eksisting, hanya sekitar 16 ribu yang masih berjalan. Sisanya, jumlahnya hampir setara, tercatat tidak aktif.

“Ini jadi pekerjaan rumah bersama. Banyak koperasi berdiri, tapi tidak semua bertahan,” katanya.

Menurut Supriadi, stigma negatif terhadap koperasi juga dipicu oleh maraknya kasus atau oknum yang mengatasnamakan koperasi, terutama di sektor simpan pinjam. 

Menurutnya, kasus-kasus semacam ini kerap mendapat sorotan media, sehingga memperkuat citra buruk di masyarakat.

“Yang sering muncul di pemberitaan itu masalah simpan pinjam,” ucapnya.

Padahal, lanjut dia, tidak sedikit koperasi di Jawa Barat yang menunjukkan kinerja positif. 

Beberapa di antaranya bahkan memiliki aset miliaran rupiah dan mampu menembus pasar internasional.

"Salah satu contoh di wilayah Ciparay yang menjadi pemasok kopi untuk jaringan global seperti gerai kopi skala Internasional," tuturnya. 

Selain itu, ada pula koperasi di Garut yang mengembangkan usaha berbasis agrobisnis hingga ekspor komoditas.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved