Waspadai Diare Pada Anak, Bisa Jadi Anak Terkena Rotavirus yang Berbahaya. Begini Cara Penanganannya
Diare merupakan gejala yang paling umum dialami Si Kecil yang terinfeksi Rotavirus.
Penulis: Siti Fatimah | Editor: Siti Fatimah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Halo Parents, terutama yang baru pertama kali menjadi orang tua, apakah pernah mendengar tentang Rotavirus? Jika ya, apa saja yang Parents ketahui tentang Rotavirus?.
Sebagian besar Parents mungkin akan menjawab diare, karena gejala ini merupakan gejala yang paling umum dialami Si Kecil yang terinfeksi Rotavirus.
Namun, implikasi infeksi Rotavirus tidak hanya sekadar diare saja, lho. Yuk, simak penjelasan berikut agar Parents dapat memahami lebih jauh mengenai Rotavirus yang dapat membahayakan Si Kecil.
Rotavirus sama dengan Diare? Bukankah diare pada anak hal yang biasa?
Dikutip dari siaran pers, GlaxoSmithKline Pharmaceuticals yang diterima Tribun, disebutkan Rotavirus adalah virus yang sangat menular yang menyebabkan diare. Ini adalah penyebab paling umum diare pada bayi dan anak-anak di seluruh dunia, yang mengakibatkan lebih dari 215.000 kematian setiap tahunnya.
Penjelasan sederhananya, Rotavirus adalah virusnya, sedangkan diare adalah gejala yang disebabkan oleh virus ini.
Penularan Rotavirus melalui jalur fecal-oral, atau dari feses penderita yang tidak sengaja masuk ke mulut orang yang sehat.
Penularan Rotavirus sangat mudah dan seringnya terjadi tanpa Parents sadari, misalnya melalui kontaminasi air, makanan, minuman, dan benda-benda yang terkontaminasi di sekitar Parents dan Si Kecil.
• Objek Wisata Cadas Ngampar Gunung Sari Ditutup 14 Hari, Ini Alasannya
• Jahe Terbukti Ampuh Usir Masuk Angin, Ini Cara Mengolah Jahe Jadi Minuman Lezat Wedang Madu Jahe
Hampir 95% anak di seluruh dunia biasanya telah terinfeksi Rotavirus ketika mereka mencapai usia 5 tahun, dan sebagian besar infeksi pertama terjadi sebelum Si Kecil berusia 1 tahun.
Infeksi rotavirus biasanya dimulai dalam dua hari setelah terpapar virus. Gejala awal dari infeksi Rotavirus adalah demam (40⁰C atau lebih tinggi) dan muntah, diikuti oleh diare cair selama tiga hingga delapan hari.
Selain demam, diare cair dan muntah , gejala-gejala infeksi Rotavirus lainnya dapat berupa lesu, rewel, badannya terasa nyeri serta tanda-tanda dehidrasi (mulut kering, frekuensi buang air kecilnya sedikit atau tidak ada sama sekali, menangis tanpa air mata).
Si Kecil yang terinfeksi Rotavirus berat dapat mengalami muntah dan mengalami diare hingga 20 kali sehari, sehingga berpotensi menyebabkan dehidrasi berat. Untuk beberapa bayi, gejalanya sangat berat sehingga mereka harus dirawat di rumah sakit.
Dehidrasi menyebabkan lebih dari 90% kematian akibat diare yang infeksius. Dengan kondisi ini, jelas infeksi Rotavirus bukan sekadar diare biasa, sehingga lebih baik bersiaga dan melakukan tindakan pencegahan, bukan?
Bisakah Rotavirus dicegah hanya dengan menjaga kebersihan/sanitasi?
Pemberian ASI eksklusif, mencuci tangan, akses air bersih, sanitasi, dan kebersihan dapat membantu mencegah penyakit rotavirus, tetapi mungkin tidak cukup. Virus ini dapat bertahan hingga 2 bulan di luar tubuh manusia dan menyebar dari orang ke orang atau melalui permukaan yang terkontaminasi, termasuk mainan.