Cerpen
Cerita dari Sebuah Gerbong Kereta Api dan Kamar Bedah
ENGKAU menolak bahwa ini cerita tentang Kau dan hantu. Namun cerita ini begitu menghantuimu. Lalu Kau mulai bercerita tentang orang-orang di RS itu.
Oleh Eriyandi Budiman
ENGKAU menolak bahwa ini cerita tentang Kau dan hantu. Namun cerita ini begitu menghantuimu. Lalu Kau mulai bercerita tentang orang-orang di rumah sakit itu. Rumah yang sering dijadikan ide-ide cerita hantu.
Engkau kemudian menjadi tokoh cerita ini, yang dimulai dari sebuah paragraf. Setelah engkau selesai membaca salah satu cerita pendek dalam sebuah buku pinjaman, Kausematkan pembatas buku itu pada halaman judul cerpen baru. Setelah Kaututup, Dream Life karya Alice Munro itu kini tergeletak pada selimut bayi yang baru Kaubeli dari pedagang pasar Kojengkang, sebuah selebrasi mingguan yang merayakan perdagangannya di depan jalan rumah sakit. Memang itu sejarah baru. Paska krisis moneter, pasar mingguan tumbuh di berbagai pelosok kota kecil seperti maraknya akun grup cerpen pendek di Fesbuk. Juga haiku.
Begitulah.
Kota-kota, ribuan pedesaan, marak juga dengan produksi bayi. Pasca-reformasi yang dihujani krisis keuangan, segalanya tumpah. Tak ada kendali. Tak ada lagi nasihat. Para istri, terutama yang muda-muda, tak lagi mengikuti anjuran memasang spiral atau menelan pil KB. Dan para suami lebih memilih sebungkus rokok daripada belanja kondom. Memang angka perceraian juga meningkat. Tapi lebih banyak yang bertahan. Dan sebahagian besar karena rasa frustrasi. Juga hawa dingin. Hanya kehangatan yang dapat mencairkan harapan, sebelum semuanya beku di Kutub Utara.
Kau tidak kehilangan pekerjaan, sebenarnya. Tapi, naskahmu harus tertunda di folder-folder redaktur yang kini menganggur. Puluhan koran dan majalah menutup ruang budaya, yang dianggap tidak sepenting tabrakan di jalan tol, kebakaran pasar, korupsi pengaturan skor dalam pertandingan bola, pertandingan tinju di parlemen, penyuapan hakim dan jaksa, pengerdilan KPK, pembunuhan kopi bersianida, pengejaran teroris, penangkapan geng motor, pornografi artis, pembuat dan penyebar hoaks, bahkan dengan peresmian jembatan di sebuah kampung.
Kau menumpahkan kegelisahanmu dengan terus membaca.
Memang, ada banyak buku yang masih dalam daftar tunggu. Itu bagus. Ini saatnya mengisi bensin literasi untuk otakmu. Tukang bercerita, harus banyak tahu juga bagaimana orang lain bercerita. Sebagaimana ada yang sedang atau akan membaca ceritamu. Cerita pendek tentang Kau.
Tapi Kau tak mungkin membayar biaya persalinan dengan bercerita meskipun hanya sebuah cerita pendek yang pendek untuk dibisikkan kepada dokter, bidan, atau perawat. Tak ada cerpen yang dapat dibarter dengan obat bius, slang infus, jarum suntik, vitamin, belaian perawat, atau selimut bayi. Kini Kau hanya menatap paras istrimu yang pucat, sedikit terhalang slang oksigen.
Masih pembukaan satu, kata dokter.
Tapi istrimu merasakan mulas luar biasa. Kini dia terbang bersama pikiran kosongnya. Janinnya tak menendang-nendang lagi. Terlalu dini untuk memperkirakan apakah masa depannya akan menjadi seorang striker, seperti harapanmu.
"Tak ada jalan lain. Istri Anda harus disesar! Janinnya lemah dan posisinya sungsang!" iba sang Bidan Desa di kampungmu, yang diam-diam Kaucita-citakan menjadi pacar gelapmu. Mak Paraji yang Kauundang juga angkat tangan. Apalagi dia belum sempat mengikuti sertifikasi dukun beranak dan terancam kurungan penjara karena dapat dianggap malpraktek. Kau tak lantas berpikir bagaimana menguji keabsahan doa-doa atau rajah tertentu para dukun beranak. Dalam dunia kedokteran, tak ada praktik mengibas-ngibaskan lidi di kamar sang calon ibu dan janinnya, menghafal aneka rajah atau jangjawokan dan menggunakan tangan kosong tanpa sarung tangan seperti para pendekar silat, saat menjemput sang jabang bayi.
Ini tengah malam yang membawa bongkahan es ke dalam ruang bersalin dekat kamar bedah. Teringat tajamnya pisau, Kau pun gelisah.
**
DAHULU, Dia berharap bertemu seorang gadis yang tengah duduk di atas gerbong kereta api yang melaju. Gadis itu akan hampir jatuh, dan Dia telah sangat siaga untuk merengkuhnya. Tentu jangan ada bulan karena kejadiannya harus siang hari atau cukup menjelang senja. Dia juga pernah berharap menemukan calon istrinya di ketinggian Menara Eiffel, agar indah untuk dijadikan cerita atau saat diceritakan kepada anak cucunya, ataupun menjadi inspirasi para pembuat cerita. Menyematkan sekuntum mawar merah muda pada pujaanya di Garden By The Bay juga pernah dijadikan cita-citanya, yang Dia tulis pada buku hariannya, termasuk pada kartu pos bergambar mulut singa yang menyemburkan air. Selepas menyimpan rapi baju wisuda sarjananya, ia memang pekerja serabutan yang selalu penuh atau banyak harapan. Termasuk berharap bahwa akan ada yang menceritakan harapan-harapannya itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/mengukur-perpisahan_20181027_212720.jpg)