Coffee Break Hermawan Aksan

Youtuber

MUNGKIN karena tergolong manusia jadul, saya sulit memahami bagaimana seorang youtuber bisa berpenghasilan miliaran rupiah per bulan.

Youtuber
dokumentasi
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun

MUNGKIN karena tergolong manusia jadul, saya sulit memahami bagaimana seorang youtuber bisa berpenghasilan miliaran rupiah per bulan. Konon Atta Halilintar, yang disebut-sebut memiliki subscriber terbanyak di Asia Tenggara, mengantongi sekitar lima miliar tiap bulan. Nama Ria Ricis, Raditya Dika, dan Raffi Ahmad kabarnya pula berada di tataran yang tidak jauh di bawah Atta.

Seperti apa konten yang dibuat para youtuber papan atas itu sehingga bisa disukai jutaan pemirsa YouTube? Saya memang bukan pencandu YouTube. Saya menyimak situs ini hanya kalau sedang di kantor, bekerja sambil menikmati lagu-lagu, diselingi melihat hasil pertandingan sepak bola, dan kadang mendengarkan ceramah agama, itu pun tidak tiap hari. Tidak pernah tebersit keinginan menonton konten para youtuber.

Baru demi membuat tulisan ini—dipicu oleh kasus Ferdian Paleka—saya mencoba mencari dan menonton. Saya lihat sekilas-sekilas konten Youtube milik Atta, Ria, dan Raffi. Tentu saja tidak adil kalau saya langsung memberikan vonis. Sebagian di antara konten itu mengandung nilai edukatif dan menghibur, misalnya kunjungan Atta ke Istana dan bertemu dengan Presiden, tapi banyak juga yang konyol.

Boleh jadi ambisi untuk meraih sebanyak mungkin subscriber membuat para youtuber mati-matian membuat konten yang berbeda. Misalnya kasus Ferdian yang kebablasan karena kontennya sungguh di luar batas kepatutan.

Saya kemudian mengajak ngobrol dua anak perempuan saya melalui WhatsApp karena kami memang berjauhan. Keduanya sehari-hari tidak lepas dari gawai dan saya menduga mereka setidaknya pernah menonton aksi para youtuber di layar gawai mereka.

"Kamu pernah nonton konten youtuber kayak Atta, Ria Ricis, dan lain-lain itu? Apa kelebihan konten mereka sampai ditonton banyak orang?"

Jawaban keduanya di luar dugaan saya. Ini jawaban si adik (20 tahun), yang sudah lebih sebulan ini menjalani kuliah jarak jauh gara-gara wabah korona. "Ga guna nontonin mereka. Ga tau apa serunya konten-konten Atta, Ricis, dkk yang setipe-tipe gitu. Hanya nonton sekilas kalau ada yang share potongan-potongannya. Bapak salah nanya orang."

"Enggak salah. Bapak justru tanya apa anak-anak Bapak penggemar mereka."

"Bapak harus bersyukur, anak Bapak ga suka nonton yang gitu-gitu. Konten mereka sama aja kayak acara-acara artis ga jelas di TV. Targetnya biasanya generasi muda atau anak-anak alay atau anak-anak kecil."

"Tapi yang nonton jutaan."

Halaman
12
Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved