Organda Garut Sebut Kelangkaan Solar Hanya di Priangan Timur, Ada Apa?

Organda Kabupaten Garut mempertanyakan kelangkaan solar yang sudah terjadi selama sepekan. Kelangkaan

Organda Garut Sebut Kelangkaan Solar Hanya di Priangan Timur, Ada Apa?
Tribunjabar/Firman Wijaksana
Sejumlah truk mengantre di SPBU Jalan Sudirman, Kecamatan Garut Kota untuk mengisi bio solar, Kamis (14/11/2019). Sudah sepekan, angkutan barang di Garut mengeluhkan pembatasan solar di SPBU. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Firman Wijaksana

TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Organda Kabupaten Garut mempertanyakan kelangkaan solar yang sudah terjadi selama sepekan. Kelangkaan tersebut hanya terjadi di wilayah Priangan Timur.

Ketua Organda Garut, Yudi Nurcahyadi, mengatakan, anggotanya banyak yang mengeluh karena sulit mendapat solar. Untuk mendapat solar, tak jarang harus mencari ke wilayah Kabupaten Bandung.

"Saya sudah koordinasi dengan Organda se Jabar. Kelangkaan solar itu cuma terjadi di Priangan Timur. Untuk daerah lain ternyata masih tersedia," ucap Yudi ditemui di kantornya, Kamis (14/11/2019).

Hingga kini, pihaknya belum mendapat alasan yang jelas terkait kelangkaan solar. Ia berharap, permasalahan tersebut bisa segera diatasi agar tak merugikan masyarakat.

Direktur PT PBB Berharap Persib Bandung Bisa Raih Tiket Piala Asia, Minimal Juara Kedua

"Organda se-Priangan Timur sudah layangkan surat ke Hiswana Migas. Intinya ingin mengetahui alasan kelangkaan. Dalam waktu dekat akan rapat di Tasik soal masalah ini," katanya.

Dari informasi yang diterimanya, kuota solar di Garut sudah dikurangi. Dari kuota sebanyak 16 ribu liter per hari dipangkas menjadi 8 ribu liter. Akibatnya, SPBU membatasi pembelian solar.

"Kalau seperti ini terus, pelayanan publik akan terkena imbasnya. Bukan hanya untuk angkutan barang. Tapi juga angkutan umum," ucapnya.

Diduga Merasa Terganggu Nyanyian Anak-anak Saat Istirahat, Pria di Bekasi Lembar Batu 2 Kali ke TK

Dari data Dinas Perhubungan Garut, angkutan barang dan orang yang menggunakan solar mencapai 15 ribu unit. Sebanyak 30 persen sudah mengurangi operasional.

"Banyak yang takut mogok di jalan karena tidak ada BBM-nya. Jadi pilih dikandangkan dulu angkutannya" ujarnya.

Penulis: Firman Wijaksana
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved