Atasi DBD di Tanah Air, SITH ITB bersama NCHU dan CDC Kembangkan Hasil Penelitian

SITH ITB bersama NCHU dan CDC terus melakukan kerja sama penelitian tentang upaya mengatasi kasus demam berdarah dengue (DBD) di tanah air.

Penulis: Cipta Permana | Editor: Dedy Herdiana
Tribun Jabar/Cipta Permana
Para narasumber seminar internasional bertajuk "Progres of Indonesia-Taiwan Dengue Prevention and Control 2019" memberikan penjelasan kepada para wartawan, dalam sesi konferensi pers di Gedung CRCS ITB, Jalan Dayang Sumbi, Kota Bandung, Rabu (16/10/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Cipta Permana 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung ( SITH ITB) bersama dengan National Chung Hsing University (NCHU) dan Centre for Disease Control (CDC) terus melakukan kerja sama penelitian tentang upaya mengatasi kasus demam berdarah dengue (DBD) di tanah air.

Hal ini dilakukan seiring keberhasilan Taiwan mengendalikan kasus DBD hanya dalam kurun waktu 1-2 tahun, yang semula puluhan ribu jumlah korban kasus tersebut menjadi menurun drastis.

Guru besar SITH ITB, Prof. Intan Ahmad PhD mengatakan, setelah melakukan serangkaian penelitian, kedua belah pihak mulai melibatkan masyarakat di Kelurahan Sekejati, Kecamatan Buah Batu, Kota Bandung sebagai lokasi uji coba penerapan metode tersebut.

Rangkaian penelitian itu antara lain melingkupi monitoring dan surveillance endemik nyamuk, telur, vektor Aedes Aegypti dan juga sebarannya secara komprehensif  yang dilakukan sejak September 2018.

"Pelibatan masyarakat menjadi sangat penting. Sebab, masyarakat memiliki peranan yang sangat besar dalam upaya pengendalian wabah DBD ini, maka tanpa peran serta mereka (masyarakat), program pengendalian wabah penyakit DBD dipastikan sulit terwujud," ujarnya di sela kegiatan seminar internasional bertajuk "Progres of Indonesia-Taiwan Dengue Prevention and Control 2019" di Gedung CRCS ITB, Jalan Dayang Sumbi, Kota Bandung, Rabu (16/10/2019).

Kasus Demam Berdarah di Jabar Meningkat, Pemprov Jabar Imbau 5 Hal Ini untuk Pemkab/Pemkot

Ini Tips Hindari Demam Berdarah dari Bu Cinta Atalia

Musim Kemarau, Kasus DBD di Kabupaten Cirebon Meningkat, Perlu Kesadaran Warga untuk Hidup Sehat

Prof Intan menjelasakan, dalam kegiatan ini selain melibatkan SITH ITB, NCHU, dan CDC, tetapi juga berkolaborasi dengan berbagai hasil riset dari perguruan tinggi lain. 

Di antaranya, Fakultas Kedokteran Univeristas Padjadjaran dan juga Dinas Kesehatan Kota Bandung, mengenai pemetaan integrasi nyamuk Aedes Aegypti melalui tiga tahap pendekatan.

Tahapannya terdiri dari ovitrap surveillance di Kelurahan Sekejati, analisi sosio ekonomi, serologi, dan molekuler surveillance, dan Geographic Information System (GIS), untuk mengetahui tingkat sebaran perkembangbiakan nyamuk tersebut.

"Sebagai model kami uji cobakan metode ini di Kelurahan Sekejati, kalau berhasil tentu kerjasamanya dengan Dinas Kesehatan yang memiliki kewenangan untuk upaya pengendalian, karena sebagai insan akademisi kami tidak bisa melakukan itu (pengendalian)," ucapnya.

Oleh karenanya, pihaknya hanya akan memberikan konsep semacam early warning sistem pengendalian untuk dikembangkan lebih jauh penerapannya, agar perkembangbiakan nyamuk di suatu wilayah semakin masif dan mengejutkan masyarakat dengan jumlah kasus ledakan demam berdarah yang semakin parah.

"Maka kepedulian masyarakat terhadap kondisi lingkungannya menjadi sangat penting, seperti halnya di Singapura, Thailand, dan Taiwan bisa berhasil mengatasi persoalan demam berdarah ini, karena warganya memahami perkembangbiakan nyamuk bisa terjadi dimana saja, bukan hanya di tempat genangan air, tetapi juga tempat-tempat berpotensi lainnya. Sehingga penelitian yang kami kembangkan adalah pemahaman ini, agar masyarakat dapat turut terlibat dan tidak hanya berharap dari upaya pemerintahnya saja dalam mengatasi persoalan ini," ujar dia.

Disinggung terkait pemilihan lokasi di Sekejati, Kecamatan Buah Batu sebagai role model, Prof Intan menuturkan, selain wilayah tersebut memiliki tingkat keterjangkitan kasus DBD tertinggi di Kota Bandung, tetapi juga pihaknya ingin mengetahui adanya korelasi antara kasus penyakit dengan jumlah telur dan nyamuk Aedes Aegypti yang ditemukan di lokasi tersebut.

"Sehingga bagaimana dengan data-data yang akan dipelajari tersebut dapat terkonversi melalui pengembangan aplikasi GIS ini, untuk mengetahui lokasi dan pemetaan tingkat sebaran nyamuk. Maka para Jumantik (juru pemantau jentik) di tiap wilayah tinggal memasukan data pada GIS di smartphone mereka, berapa jumlah yang mereka temukan untuk di kumpulkan, agar dapat semakin cepatnya upaya pengambilan keputusan dan  pengendalian DBD oleh pemerintah," ucapnya.

Ia pun berharap melalui metode penelitian ini, dapat menjadi kontribusi solusi bagi pemerintah dan juga masyarakat untuk dapat melakukan upaya pencegahan dengan mendeteksi secara dini sumber penyakit demam berdarah di Kota Bandung dan di Indonesia. Terlebih kondisi outbreak atau ledakan kasus DBD di Indonesia memiliki siklus 6-8 tahun.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved