Gunung Tangkuban Perahu Masih Batuk, Dinkes Siagakan Tim Medis

Berli mengatakan saat Gunung Tangkubanparahu mengalami erupsi freaktik beberapa waktu lalu dan menyemburkan gas serta abu

Gunung Tangkuban Perahu Masih Batuk, Dinkes Siagakan Tim Medis
Tribun Jabar/Hilman Kamaludin
Wisatawan di Gunung Tangkuban Parahu, Kamis (1/8/2019). 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat menyiagakan Tim Medis Gerak Cepat yang siap mobile 24 jam sehari untuk menghadapi kondisi Gunung Tangkubanparahu yang belum stabil dan bisa kembali mengalami erupsi kapanpun.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Berli Hamdani Gelung Sakti, mengatakan hal tersebut telah dirapatkan bersama dinas kesehatan yang menaungi puskesmas dan RSUD di sekitar Gunung Tangkubanparahu, yakni Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Subang, Kota Cimahi, dan Kota Bandung.

Berli mengatakan saat Gunung Tangkubanparahu mengalami erupsi freaktik beberapa waktu lalu dan menyemburkan gas serta abu, sebanyak 24 orang yang berada di sekitar kawah terkena dampaknya.

Mereka mengalami gangguan pernapasan dan sebagian mendapat luka ringan akibat terkena udara panas.

"Gunung Tangkubanparahu masih mengalami erupsi freatik dan bisa terjadi tanpa diawali tanda-tanda yang jelas. Kami harus menghitung response time untuk mobile tenaga medis dan logistik ke lokasi bencana," kata Berli di Bandung, Rabu (7/8).

Menurut Berli, saat erupsi pertama beberapa hari lalu, dibutuhkan waktu empat jam setelah kejadian, supaya semua tim medis dan logistik bisa langsung ke lokasi sampai penyiapan pengungsian. Pihaknya pun kini memperkuat jalur koordinasi sehingga penanganan medis bisa jauh lebih cepat dari sebelumnya.

"Tentunya dalam hal ini yang terdepan adalah puskesmas terdekat dengan gunung, daerah Subang dan Cikole. Rumah sakit rujukan pertamanya adalah RSUD Lembang. Selain itu ada juga pelayanan kesehatan lainnya dari instansi lain," katanya.

Menurut Berli, Tangkubanparahu memang merupakan salah satu gunung yang paling aktif di Indonesia, sehingga kesiagaan bencana di bidang kesehatan pun harus terus diperkuat, terutama dalam hal koordinasi.

"Dalam rapat koordinasi kemarin pun kami kembali mengukuhkan tim medis gerak cepat. Tidak hanya personil dan logistik, tapi mengenai koordinasi, jejaring layanan, dan transportasinya. Jadi ini sistemnya siaga untuk mobile kalau hal yang tidak diinginkan terjadi," ujarnya.

Menurut Berli, selain posko-posko medis siaga bencana, pihaknya pun memiliki dua unit ambulans berfasilitas layaknya instansi gawat darurat sampai ICU. Ambulans yang dikemudikan sopir berkompetensi khusus ini siap meluncur saat dibutuhkan. (Sam)

Editor: Ravianto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved