Cerpen Toni Lesmana

Ziarah

DEWI memungut sehelai daun yang menimpa ubun-ubunnya kemudian jatuh dekat kakinya. Ditatapnya daun itu. Daun gugur. Daun mati.

Dewi tak sadar melangkah ke gerbang makam, matanya mencari keluarga monyet. Yang nampak hanya tebaran nisan di antara pohon-pohon. Ada kamboja di beberapa tempat sedang berbunga. Mekar semarak. Ada yang kuning, merah muda, dan ungu.

"Masuk saja, Neng! Tak ada salahnya ikut berdoa. Lihat mereka begitu khusyuk." Lagi-lagi Nenek Tua sudah ada di sampingnya. Tangan kirinya nampak sedang menyusupkan korek api ke dalam gelungan rambut. Ada wangi daun terbakar. Api di sudut halaman pemakaman sedang menari-nari menghanguskan unggun daun-daun gugur.

Dewi mengikuti arah telunjuk nenek tua itu. Nampak kawan-kawannya sedang melingkar di sebuah makam. Mereka diam, menunduk. Mirip batu. Batu nisan. Ada saung kecil di sana, tak jauh dari makam yang sedang diziarahi.

"Ayo!" Nenek itu tersenyum lagi dengan bibir yang meleleh. Merah. Dewi teringat darah. Darah ibu dan ayahnya. Ia sedikit limbung. Bayangan darah itu melumuri pikirannya. Darah yang tumpah dari perut ibunya, dari dada ayahnya. Peristiwa yang terjadi di masa kecil menggulung benaknya. Tubuhnya bergetar. Bersandar pada gerbang makam.

Malam sudah larut ketika itu, Dewi yang terbiasa tidur dalam lemari belum lelap, ia masih bermain-main dengan semua tokoh dongeng yang sering diceritakan ibunya. Ia masih membayangkan hidup di Neverland. Selamanya menjadi anak-anak. Bermain. Terbang. Sesuka hati.

Ibu dan ayahnya sudah lama tidur di kasur tanpa ranjang. Mereka kelelahan setelah seharian pergi demonstrasi. Dewi yang masih berusia lima tahun tak mengerti. Ia hanya sering melihat banyak orang datang ke rumah mereka yang kecil ini. Bicara banyak hal. Kemudian ibu dan ayahnya pergi hingga malam, sering seharian ia dititipkan pada tetangga, tak jarang malah hingga menginap berhari-hari.

Malam itu, dari dalam lemari Dewi mendengar suara-suara aneh dari luar. Kemudian suara langkah. Tapi ia terlalu asyik dengan dunianya. Saat terdengar suara pintu kamar, ia mengintip dari lubang kunci lemari. Sesosok hitam masuk. Ia menahan napas teringat bajak laut di Neverland. Sosok yang memunggungi lemari itu berjalan ke arah ibu dan ayahnya. Ia melihat sosok itu membawa senjata tajam. Menikam berulang kali ke arah kasur. Cepat dan kuat. Terdengar suara rintih ayah dan ibunya. Tak berapa lama sosok itu bergegas ke luar.

Di atas kasur, ibu dan ayahnya berlumuran darah. Merah. Dewi nanar tak sadarkan diri. Dia tidak tahu ketika sosok hitam itu masuk lagi membawa teman, membawa kantong besar. Memasukkan mayat ibu dan ayahnya ke dalam kantong, lantas memanggulnya. Entah ke mana. Begitu ia tersadar yang didapati di kasur hanya darah. Merah.

Merah seperti lelehan sirih di bibir Nenek Tua.

Suara kosrak sapu lidi meyusup ke dalam kepala Dewi. Menyapu genangan darah. Kosrak. Kosrak. Kosrak. Nenek tua itu asyik menyapu daun di atas tanah merah. Gerakannya pelan berirama. Seperti menari. Berputar. Seperti putaran terbang kelelawar tadi. Gerakan nenek tua itu lama-lama mirip lambaian. Tubuhnya begitu ringan seperti daun gugur. O, daun-daun berguguran. Hujan daun di dalam makam.

Halaman
1234
Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved