Cerpen Toni Lesmana

Ziarah

DEWI memungut sehelai daun yang menimpa ubun-ubunnya kemudian jatuh dekat kakinya. Ditatapnya daun itu. Daun gugur. Daun mati.

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan

Ibu dan ayahnya sudah lama tidur di kasur tanpa ranjang. Mereka kelelahan setelah seharian pergi demonstrasi. Dewi yang masih berusia lima tahun tak mengerti. Ia hanya sering melihat banyak orang datang ke rumah mereka yang kecil ini. Bicara banyak hal. Kemudian ibu dan ayahnya pergi hingga malam, sering seharian ia dititipkan pada tetangga, tak jarang malah hingga menginap berhari-hari.

Malam itu, dari dalam lemari Dewi mendengar suara-suara aneh dari luar. Kemudian suara langkah. Tapi ia terlalu asyik dengan dunianya. Saat terdengar suara pintu kamar, ia mengintip dari lubang kunci lemari. Sesosok hitam masuk. Ia menahan napas teringat bajak laut di Neverland. Sosok yang memunggungi lemari itu berjalan ke arah ibu dan ayahnya. Ia melihat sosok itu membawa senjata tajam. Menikam berulang kali ke arah kasur. Cepat dan kuat. Terdengar suara rintih ayah dan ibunya. Tak berapa lama sosok itu bergegas ke luar.

Di atas kasur, ibu dan ayahnya berlumuran darah. Merah. Dewi nanar tak sadarkan diri. Dia tidak tahu ketika sosok hitam itu masuk lagi membawa teman, membawa kantong besar. Memasukkan mayat ibu dan ayahnya ke dalam kantong, lantas memanggulnya. Entah ke mana. Begitu ia tersadar yang didapati di kasur hanya darah. Merah.

Merah seperti lelehan sirih di bibir Nenek Tua.

Suara kosrak sapu lidi meyusup ke dalam kepala Dewi. Menyapu genangan darah. Kosrak. Kosrak. Kosrak. Nenek tua itu asyik menyapu daun di atas tanah merah. Gerakannya pelan berirama. Seperti menari. Berputar. Seperti putaran terbang kelelawar tadi. Gerakan nenek tua itu lama-lama mirip lambaian. Tubuhnya begitu ringan seperti daun gugur. O, daun-daun berguguran. Hujan daun di dalam makam.

Keheningan. Dewi berkali-kali melirik ke arah teman-temannya yang masih saja khusyuk berdoa dipimpin Aki Kuncen. Dewi menerka-nerka Nenek Tua yang terus menyapu itu pastinya istri Aki Kuncen. Mereka sama tuanya. Orang-orang tua yang anehnya bermata jernih seperti bocah. Teman-teman Dewi, katanya, sedang berziarah ke makam salah seorang leluhur, yang hidup ratusan tahun silam. Makam itu terletak di tengah-tengah, di bawah sebuah pohon besar. Dari jauh nampak tonjolan-tonjolan akar di tanah, mirip ular. Keluarga monyet memanjat akar gantung yang mirip jenggot.

Selintas Dewi menangkap sesosok tubuh hitam yang sedang berdiri, jauh di sudut, sedang asyik membidik. Senapan panjang mengarah ke akar-akar yang bergelantungan.

Duar!

Suara tembakan merobek sepi. Kontan jerit kelelawar terbit di udara. Mereka beterbangan. Riuh suara kepak. Sebuah tembakan menyusul. Makin gaduh. Daun berguguran makin lebat.

Nenek Tua berdiri mematung. Tengadah. Melihat ke sudut asal suara tembakan. Sapu lidi diangkat tinggi-tinggi. Tangan kirinya menarik kain jarik. Wajahnya menegang. Marah.

"Anak sialan! Sudah berkali-kali dilarang berburu di sini! Mentang-mentang anak Lurah! Seenaknya saja judar-jedor! Hey! Pergi!" Nenek itu mengumpat sambil berlari memburu sosok hitam yang lekas menghilang di antara pohonan.

Dewi tegang melihat tiga sosok hitam kecil yang melayang bersama guguran daun. Tanpa sadar ia berlari di jalan setapak yang membelah makam. Menembus guguran daun. Kakinya terhenti dan langsung terjatuh ketika dia lihat dua ekor monyet terkapar, pecah kepalanya, sementara monyet kecil merangkak lemah memeluk salah satu monyet, mungkin ibunya. Monyet kecil itu menjerit-jerit.

Dewi tersedu-sedu. Ia bersujud di hadapan tiga ekor monyet itu. Tangannya menggenggam daun-daun gugur. Mendadak tengadah. Menjerit. Menghamburkan daun-daun ke udara. Lantas merangkak. Tangannya menggapai-gapai ingin meraih monyet kecil yang sedang menarik-narik mayat ibunya.

Aki Kuncen berdiri, menatap Dewi dan monyet, menatap guguran daun. Teman-teman Dewi panik. Memburu. Tertahan melihat mayat monyet. Nenek Tua datang masih dengan wajah penuh kemarahan. Sapu lidi masih teracung, kain jarik masih ditarik di atas lutut.

Dewi menangis makin histeris. Monyet kecil menjerit-jerit.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved