Cerpen Toni Lesmana
Ziarah
DEWI memungut sehelai daun yang menimpa ubun-ubunnya kemudian jatuh dekat kakinya. Ditatapnya daun itu. Daun gugur. Daun mati.
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
DEWI memungut sehelai daun yang menimpa ubun-ubunnya kemudian jatuh dekat kakinya. Ditatapnya daun itu. Daun gugur. Daun mati. Tiba-tiba wajahnya mengeras, ia dihinggapi ngeri. Spontan ia meludahi daun itu. Lekas membuangnya. Daun itu, mirip mayat, terbaring di tanah, lantas angin yang datang menyeretnya ke selokan. Tergelincir. Hanyut. Tersaruk-saruk dalam arus keruh.
Sambil menatap rimbun pohon beringin yang meneduhinya, menerka-nerka dari cabang dan ranting mana daun tadi lepas, Dewi tersenyum sendiri mengingat tingkahnya yang mirip anak kecil. Kenapa ketakutan yang muncul tiba-tiba mendorong manusia untuk melakukan hal-hal yang tolol. Tolol? Benarkah meludahi daun itu perbuatan konyol dan tolol? Lebih tolol lagi mereka yang percaya ada kehidupan setelah kematian tapi masih saja takut mati. Tidak ada apa-apa setelah kematian. Hanya titik. Batin Dewi. Pada wajah yang tegas tersirat segaris pedih.
Nun, di dalam hutan kecil yang ada di depannya, dalam naungan pohon-pohon besar puluhan atau mungkin ratusan kuburan. Teman-temannya sedang berziarah ke salah satu makam yang konon tempat ditanamnya seorang leluhur daerah itu, daerah yang sedang mereka telusuri sejarahnya untuk keperluan tugas kuliah. Dewi tak ikut masuk. Memasuki kuburan baginya sama saja dengan memasuki kematian. Ia memilih tinggal sendiri di luar gerbang. Ia merasa tak ada gunanya berjalan-jalan di antara orang-orang mati, atau malah duduk berjongkok berlama-lama merapal doa. Sudah lama ia melupakan doa.
Kelak juga ia akan datang ke sana, ya, ketika ia sudah waktunya mati. Datang sebagai sama-sama orang mati. Tapi kapan aku mati? Dewi tengadah. Nanti, selepas seluruh dendam punah aku akan datang sendiri pada kematian.
Seekor monyet bergelantungan di dahan beringin. Satu ekor lagi, betina, sedang menyusui. Tiga ekor monyet di pohon beringin. Beberapa helai daun kembali jatuh. Dewi menghindari guguran daun yang nampaknya seakan sengaja mengarah ke dirinya.
"Lho, kenapa tidak masuk, Neng?"
Dewi terperanjat. Seorang nenek tua berambut putih, bungkuk, mengunyah sirih, bibirnya yang merah nyaris meleleh itu tersenyum. Sapu lidi di tangannya. Pelan menyapu guguran daun. Suara kosrak sapu lidi seperti suara keheningan yang menyapu kematian, mengumpulkannya satu demi satu tubuh mati menjadi tumpukan. Menjadi unggun yang menanti lentik jari api.
Dewi bergidik. Ada kengerian yang hadir. Mulutnya kelu untuk menjawab. Dialihkannya lagi matanya mencari monyet di dahan-dahan beringin. Namun keluarga kecil monyet itu sudah berada di pohon lain yang ada di dalam pemakaman. Mereka bergelantungan lincah. Menjerit- jerit. Mengusik tidur kelelewar yang bergelantungan. Sebagian kelelewar terjaga. Balas menjerit. Gaduh. Suara kepak. Mereka mengepak. Beterbangan. Memutar di atas pucuk pepohonan.
Sayap kelelawar yang hitam mengembang dan mengepak. Dewi, lagi-lagi, membayangkan sayap-sayap kematian. Ia membayangkan taring kelelawar yang mengintai urat lehernya. Wajah kematian mungkin seperti wajah kelelewar yang mirip anjing. Kegaduhan lekas mereda. Kelelawar itu kembali menyusup di rimbun pepohonan. Mengambil posisi untuk menggelantung lagi. Ini memang bukan waktu mereka untuk bangun. Masih terlalu siang. Siang yang terik dan sepi.
Keluarga monyet nampak meluncur turun pada akar-akar gantung, melompat ke jalan setapak yang dibalay batu-batu kecil. Jalan setapak yang membelah pemakaman. Jalan setapak yang diapit ratusan nisan. Keluarga monyet menghilang.
Dewi tak sadar melangkah ke gerbang makam, matanya mencari keluarga monyet. Yang nampak hanya tebaran nisan di antara pohon-pohon. Ada kamboja di beberapa tempat sedang berbunga. Mekar semarak. Ada yang kuning, merah muda, dan ungu.
"Masuk saja, Neng! Tak ada salahnya ikut berdoa. Lihat mereka begitu khusyuk." Lagi-lagi Nenek Tua sudah ada di sampingnya. Tangan kirinya nampak sedang menyusupkan korek api ke dalam gelungan rambut. Ada wangi daun terbakar. Api di sudut halaman pemakaman sedang menari-nari menghanguskan unggun daun-daun gugur.
Dewi mengikuti arah telunjuk nenek tua itu. Nampak kawan-kawannya sedang melingkar di sebuah makam. Mereka diam, menunduk. Mirip batu. Batu nisan. Ada saung kecil di sana, tak jauh dari makam yang sedang diziarahi.
"Ayo!" Nenek itu tersenyum lagi dengan bibir yang meleleh. Merah. Dewi teringat darah. Darah ibu dan ayahnya. Ia sedikit limbung. Bayangan darah itu melumuri pikirannya. Darah yang tumpah dari perut ibunya, dari dada ayahnya. Peristiwa yang terjadi di masa kecil menggulung benaknya. Tubuhnya bergetar. Bersandar pada gerbang makam.
Malam sudah larut ketika itu, Dewi yang terbiasa tidur dalam lemari belum lelap, ia masih bermain-main dengan semua tokoh dongeng yang sering diceritakan ibunya. Ia masih membayangkan hidup di Neverland. Selamanya menjadi anak-anak. Bermain. Terbang. Sesuka hati.