Kasus Proyek Meikarta

Mantan Calon Wali Kota Surabaya Ungkap Peran Billy Sindoro dalam Kasus Proyek Meikarta

Hingga‎ akhirnya, ia bertemu dengan Billy Sindoro. Salah satunya, di Hotel Axia, Cikarang.

Mantan Calon Wali Kota Surabaya Ungkap Peran Billy Sindoro dalam Kasus Proyek Meikarta
(TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN)
Delapan orang saksi memenuhi panggilan jaksa KPK dalam sidang lanjutan kasus suap perizinan proyek Meikarta dengan terdakwa Billy Sindoro, Henry Jasmen, Fitradjaja Purnama dan Taryudi, di Pengailan Tipikor Bandung, Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung, Rabu (30/1/2019). Sementara satu saksi lainnya yang dipanggil jaksa KPK yakni petinggi Lippo Group James Riady tidak memenuhi panggilan. 

"Saat itu, semua kelengkapa‎n ‎terkait RDC sudah lengkap. Tapi kok belum keluar juga. Saya minta (terdakwa) Taryudi untuk mengecek, ternyata berkasnya masih di Pak Yani Firman. Setelah itu, Pak Yani katanya minta bertemu," ujar Fitradjaja.

Kemudian, ia akhirnya menemui Yani Firman dan membahas RDC. Ia menemui Yani Firman bersama Henry Jasmen dan Taryudi.

"Saya ke Bandung bersama pak Henry Jasmen, Pak Yani bilang perlu untuk teman-teman staf, pak Yani bilang, mungkin 500 (juta) cukup atau enggak," ujar Fitradjaja. Akhirnya, uang diberikan ke pak Yani, uangnya dari pak ‎Henry. Nilainya saya enggak tahu, tapi pecahan dolar Singapura," kata Fitradjaja.

Pada persidangan 28 Januari, Yani Firman tidak mengakui dirinya meminta uang pada Fitradjaja, Henry Jasmen atau Taryudi.

‎"Tidak ada yang menjanjikan pemberian uang. Tapi memang saya terima SGD 90 ribu dari pak Fitradjaja. Pak Fitra sempat meminta saya untuk membagikan uang itu tapi saya tidak tahu harus membagikan ke siapa," ujar Yani Firman.

Ia menegaskan tidak pernah menawarkan atau menjanjikan uang setiap kali mengurus perizinan. Ia juga tidak pernah tahu soal uang itu berasal.

Namun, setiap permintaan uang selalu dilaporkan ke Billy Sindoro dan Henry Jasmen.

"Yang ada, saya sering diminta terus-terusan sama bu Neneng Rahmi dan Jamaludin dari Dinas PUPR. Kalau soal uang saya tidak tahu bagaimana menyiapkannya, karena itu biasanya dari pak Henry Jasmen," kata Yani Firman lagi.

Adapun terkait pengurusan IPPT dengan uang suap Rp 10 miliar ke Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin, Fitra tidak mengetahuinya.

"Karena untuk IPPT sudah diurus sama pak Edy Dwi Soesianto dan pak Satriyadi dari PT Lippo Cikarang," katanya.

Halaman
1234
Penulis: Mega Nugraha
Editor: Ravianto
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved