Coffee Break Hermawan Aksan

Suara Seorang Sahabat

Menatap keadaan yang tenteram seperti itu, batin saya penuh pertanyaan. Yogya sebelah mana yang mengerikan seperti disebut-sebut Pak Ustaz?

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Yudha Maulana
dok. pribadi / facebook
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun. 

Oleh Hermawan Aksan

SEORANG sahabat (meski belum bertemu muka), Kalis Mardiasih, menyuarakan pendapatnya melalui sebuah tulisan yang menarik di laman mojok.co. Tulisan berbahasa Jawa itu diberi judul "Kowe sing Padu, Jokowi sing Dipaido", yang artinya lebih kurang "Kalian yang Bertengkar, Jokowi yang Disalahkan".

Atas izin sang penulis, saya coba menyadur tulisan itu ke dalam bahasa Indonesia. Namun, seperti umumnya penyaduran atau penerjemahan, pasti ada nuansa yang hilang. Lagi pula, ruang kolom ini tidak mampu menampung keseluruhan (terjemahan) tulisan itu. Apa boleh buat. Yang penting, saya mencoba mempertahankan poin-poin pentingnya.

Berikut ini saduran saya.

"Pekan lalu saya jalan-jalan melewati sebuah kampung di Yogyakarta. Saya melewati sebuah masjid yang sedang menggelar pengajian. Merasa menjadi orang yang kurang siraman rohani, saya iseng-iseng berhenti dengan niat memperoleh ilmu baru keagamaan yang bisa menambah stok keimanan.

Namun apa yang terjadi tidak sesuai dengan harapan saya. Suara ustaz melalui pengeras yang terdengar hingga ratusan meter itu rasanya malah lebih banyak menggerutu dan malah mencaci.

Menurut Pak Ustaz, situasi negeri ini saat ini mengerikan, tidak kondusif, maksiat di mana-mana, dan hidup serba tidak berkah. Hidup sekarang, kata Pak Ustaz, serba penuh halangan, dan semua halangan itu terjadi karena salah Amerika, Nasrani, Kafir, Yahudi, Komunis, dan Jokowi.

Dari acara itu, saya pulang dengan hati galau. Melewati pasar-pasar kampung Yogya, saya melihat orang-orang di pasar tampak ramah-ramah dan gembira. Saya juga mampir di toko buku. Para ayah dan para ibu mengantar anak-anak mereka yang manis dan lucu membeli buku dan keperluan sekolah.

Jalanan Yogya juga ramai lancar tapi tetap tertib seperti biasa. Sebelum sampai di rumah, saya melewati persawahan kampung Sardonoraharjo. Para petani berangkat ke sawah dengan wajah ikhlas dan hati lapang. Padinya hijau dan gemuk-gemuk. Sesampai saya di rumah, ternyata ada kerja bakti kampung. Warga tetap kelihatan guyub-rukun dan anak-anak riang bermain sepeda.

Menatap keadaan yang tenteram seperti itu, batin saya penuh pertanyaan. Yogya sebelah mana yang mengerikan seperti disebut-sebut Pak Ustaz?

Setelah berpikir sejenak dengan kepala dingin, saya berkesimpulan: tidak semua perkara di dunia dan merosotnya akhlak umat disebabkan oleh Amerika, Nasrani, Kafir, Yahudi, Komunis, dan Jokowi.

Manusia modern yang serakah itu bukan perkara asal suku, agama, atau warna kulit, melainkan karena nalar dan watak masing-masing. Orang kafir bisa serakah, tapi orang muslim yang serakah juga tak kalah banyak. Orang Yahudi bisa maksiat dan korupsi, tapi seperti kita lihat, orang muslim Indonesia yang korupsi mulai tingkat kecamatan hingga kabupaten, ya, banyak.

Membangun masyarakat memang susah. Harus memakai ilmu, harus membangun komunitas sosial, dan, di atas semuanya, membangun tata sosial yang kuat. Kuncinya, harus punya kesabaran.

Kalau ada lingkungan rusak karena pembangunan, kalau kemajuan itu tidak terlalu peduli dengan prinsip-prinsip alam, itu terjadi karena manusianya yang serakah. Ingin modern, padahal kemajuan itu belum tentu sama dengan kemodernan.

Buktinya, sekarang banyak manusia yang kembali ke gaya hidup serba-alami, mulai soal makanan organik hingga sabun mandi organik, karena menyadari perkara modernitas tidak semuanya baik bagi kehidupan.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved