Coffee Break Hermawan Aksan
Anomali Dilan
Aapakah Dilan bisa disebut mewakili "generasi milenial"? Kalau benar, ini jadi semacam anomali. Dan tentu saja menarik untuk ditelaah lebih lanjut.
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Yudha Maulana
Oleh Hermawan Aksan
DUA tahun lalu, lebih kurang, saya menerima kiriman buku Dilan karya Pidi Baiq. Tentu saja saya mengenal nama sang penulis, yang sudah menerbitkan sejumlah buku laris, terutama serial Drunken, yakni Drunken Monster, Drunken Molen, Drunken Mama, dan Drunken Marmut.
Beberapa tahun sebelumnya, saya pernah membaca sebuah cerpen karya Pidi Baiq di sebuah harian lokal. Seperti biasa jika habis membaca cerpen di koran, saya berdiskusi ringan dengan Deni Ahmad Fajar, teman di redaksi harian tempat saya bekerja yang juga sastrawan Sunda peraih Hadiah Sastra Rancage 2013 berkat buku kumpulan sajaknya, Lagu Padungdung.
"Gimana cerpen Pidi Baiq ini?" tanya saya.
"Ah, lieur, Kang," jawabnya. "Alur ceritanya enggak jelas, ngacapruk. Ceritanya seakan-akan dipotong begitu saja."
Saya mengangguk setuju.
Di hari yang lain, saya sempat bertemu dan mengobrol dengan redaktur yang memuat cerpen Pidi Baiq itu. Saya juga sempat menanyakan bagaimana pendapatnya tentang cerpen itu. Jawabnya, "Mungkin pemahaman kita tentang cerpen yang baik selama ini keliru."
Saya tidak puas dengan jawabannya, tapi mencoba memahami. Mungkin ia menemukan sesuatu yang unik atau berharga dalam cerpen itu. Atau boleh jadi ia membuka halaman sastra yang diasuhnya untuk karya eksperimental.
Dengan latar belakang seperti itu, saya acuh tak acuh ketika menerima buku Dilan. Saya mulai membuka halaman demi halaman awalnya dengan sikap yang sama. Namun, ketika saya terus membaca, saya tidak mau berhenti. Saya termasuk pembaca yang lambat, sulit menyelesaikan membaca satu buku tanpa berhenti. Tapi, tanpa saya rencanakan, saya menyelesaikan membaca Dilan dalam waktu relatif singkat. "Ini karya yang bagus," batin saya.
Beberapa hari kemudian, saya berdiskusi dengan Deni, yang juga sudah membaca Dilan. Deni ternyata sepakat bahwa Dilan buku yang bagus. Pendeknya, kami sama-sama surprise karena Dilan berbeda jauh dengan cerpen yang pernah ditulis Pidi tempo hari.
Kini, dua tahun kemudian, nama Dilan menjadi buah bibir di seantero negeri ini. Filmnya, yang diangkat berdasarkan novel itu, diserbu remaja "generasi milenial".
Seorang teman memprediksi jumlah penonton film Dilan di bioskop akan memecahkan rekor. Pekan lalu, ketika anak saya hendak menonton film lain, ia mendapati film Dilan diputar di beberapa ruang di gedung bioskop yang sama.
Ucapan-ucapan Dilan pun viral di media sosial. Satu di antaranya, "Jangan rindu, berat. Kamu nggak akan kuat, biar aku saja."
Yang menarik dari fenomena booming Dilan, kisah Dilan dan Milea berlatar waktu awal 1990- an, ketika telepon seluler mungkin baru dalam tahap pengembangan, ketika hubungan cinta dua remaja masih terjalin antara lain lewat surat-menyurat. Jadi, tentu saja sulit untuk dikatakan bahwa Dilan dan Milea mewakili "generasi milenial".
Ini berbeda dengan kisah cinta generasi sebelumnya, sebut saja Cintaku di Kampus Biru, kisah yang menggambarkan generasi ketika novel (dan kemudian film) itu beredar dan meledak, pada paruh kedua 1970-an. Begitu juga dengan Ali Topan Anak Jalanan pada kurun yang hampir sama.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/dilan_20180210_235034.jpg)