Cerpen Yus R Ismail
Sit-Uncuing
SIT-uncuing bernyanyi di atas pohon. Tapi entah pohon yang mana. Nining sudah beberapa kali mengamati pepohonan tinggi yang tumbuh di sekitar rumahnya
Ah, Nining selalu tidak yakin, bagaimana menyampaikan kabar buruk yang sebenarnya? Apalagi saat sampai di rumah banyak saudara dan tetangga yang menengok Ambu. Teh Encih, Aa Ajim, Mang Iwan, Nini Jumsih, Aki Atang, Uwa Oo, Kang Asep, Pa Ujang; terlihat geumpeur dan menahan tangis. Ambu terbaring di kasur, napasnya turun-naik cepat. Tidak lama kemudian terdengar sirene ambulans. Ambu dibawa ke rumah sakit.
**
HANYA sehari Ambu di rumah sakit. Alhamdulillah, kata dokter tidak apa-apa. Selain didiagnosis jantungnya baik, Ambu ingin cepat pulang karena Teh Nunung pun rencananya pulang siang harinya.
Siang itu sekali lagi ambulans dengan suara sirene mencekam datang lagi ke rumah Ambu. Mang Sakri mendorong kursi roda Teh Nunung. Kaki dan tangan digips dan dibalut perban membuat Teh Nunung seperti setengah mumi. Tapi kali ini bukan waktunya tertawa. Teh Nunung menangis meski belum ketemu Ambu. Tangis yang semakin mengeras meski ditahan ketika bertemu tangis Ambu yang terbaring di kasur.
"Ambu, alhamdulillah Ambu sehat dan kuat mendengar kabar ini," kata Teh Nunung sambil memeluk Ambu dengan tangan sebelah.
"Kabar kecelakaanmu menjadi tidak seberapa, Nung, setelah kemarin kabar Nining tertabrak mobil sampai meninggal."
Tangis Nunung mengeras sebentar, setelah itu tidak ingat apa-apa. Nining, yang merasa berdiri di sebelah kakaknya, sama terkejutnya. Dia sudah meninggal kemarin tertabrak mobil? Dia sudah meninggal kemarin? Meninggal?
***
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/sit-uncuing_20170609_232841.jpg)