Cerpen Yus R Ismail

Sit-Uncuing

SIT-uncuing bernyanyi di atas pohon. Tapi entah pohon yang mana. Nining sudah beberapa kali mengamati pepohonan tinggi yang tumbuh di sekitar rumahnya

Editor: Hermawan Aksan
ILustrasi Cerpen Sit Uncuing 

"Bukan hanya sakit, Ambu. Kecelakaan pun seringkali tidak bisa dihindari meski kita sangat hati-hati sekali."

"Iya, betul." Ambu pantasnya sambil memandang Nining lebih tajam, mungkin mulai curiga kenapa Nining membicarakan itu.

"Kecelakaan itu sering terjadi, jadi tidak usah membuat kita terkejut." Nining berhenti sebentar, memandang bantal lebih saksama seolah-olah bantal itu adalah Ambu. "Teh Nunung mengalami kec...."

Ah, Nining tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ambu pasti terkejut mendengar kabar seperti itu. Dadanya akan berdebar, napasnya turun-naik lebih cepat. Kalau sudah begitu, Nining pasti akan khawatir. Sebaiknya bukan begitu cara mengabarinya.

Sorenya Nining pergi ke taman kota. Dia bilang kepada Ambu akan membeli keperluan dapur sekalian membeli pulsa. Ambu tadi memintanya untuk menghubungi Nunung, tapi Nining beralasan pulsanya habis. Ambu sendiri, sejak mengidap sakit jantung itu, tidak lagi memegang HP sendiri, tidak juga boleh menonton televisi dan mendengarkan radio.

Di taman kota Nining duduk di bangku sambil membaca buku. Tepatnya pura-pura membaca buku. Karena pikirannya masih melayang kepada Ambu. Nanti malam, sebelum tidur, Nining akan menyampaikan kabar buruk itu.

"Waktu kecil Ambu selalu mendongeng buat Nining dan Teh Nunung. Kali ini Nining yang akan mendongeng buat Ambu." Begitu Nining akan memulai pembicaraannya.

Ambu pantasnya akan tersenyum.

"Zaman Nabi Sulaiman as, ada seorang sahabat yang sangat besar jasanya. Suatu hari sahabat itu melihat kedatangan malaikat Izrail ke kotanya. Dia terkejut. Mau mendatangi siapa malaikat pencabut nyawa itu? Karena takut Izrail akan mencabut nyawanya, sahabat itu meminta Nabi Sulaiman as untuk menerbangkannya ke tanah India. Jarak dari Yerusalem tempat Nabi Sulaiman as berkuasa ke India tentu saja sangat jauh, dipisahkan lautan dan negara-negara Timur Tengah. Tapi sahabat itu yakin Nabi Sulaiman bisa meminta angin menerbangkannya ke India."

Ambu pantasnya mendengarkan dongeng sambil membelai rambut Nining. Ambu berbahagia.

"Akhirnya Nabi Sulaiman as menerbangkan sahabatnya itu ke India. Selang beberapa menit malaikat Izrail yang menghadap Nabi Sulaiman as karena bingung. Bingung karena dalam catatan ketentuan, dia harus mencabut nyawa di India, tapi orangnya, kok, ada di Yerusalem? 'Jangan bingung-bingung, Tuan Malaikat. Silakan saja Tuan pergi ke India, orang itu sekarang sudah ada di India,' kata Nabi Sulaiman as."

Ambu pantasnya akan tersenyum mendengar dongeng itu.

"Nah, Ambu, seperti juga kematian yang sudah ada catatannya, kecelakaan pun...."

Lamunan Nining berhenti sampai di sana. Mendongeng dan menyampaikan kabar buruk yang sebenarnya mempunyai ketegangan yang sangat berbeda. Nining lalu pulang berjalan kaki. Sepanjang jalan masih juga terpikir cara menyampaikan kabar buruk yang lain.

"Ambu, dari kemarin burung sit-uncuing bernyanyi di pepohonan. Kata mitos orang dulu, nyanyian burung kecil itu membawa pesan buruk. Tidak hanya pesan ada kerabat atau kenalan yang meninggal. Tapi juga pesan kabar buruk lainnya. Misalnya kecelakaan...."

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved