Cerpen Kiki Sulistyo

Keabadian Sirin

MIMPI pertama Sirin setelah bertahun-tahun tak melihat apa pun dalam tidurnya adalah bertemu dengan seorang pemimpin di sebentang padang pasir.

Editor: Hermawan Aksan
ILustrasi Cerpen Keabadian Sirin 

MIMPI pertama Sirin setelah bertahun-tahun tak melihat apa pun dalam tidurnya adalah bertemu dengan seorang pemimpin di sebentang padang pasir. Pemimpin itu—Sirin ragu, perempuan atau lelakikah ia—bertubuh sangat besar, berkulit hitam legam. Kepalanya ditutup oleh semacam topi tinggi dengan hiasan bulu burung. Pakaiannya tampak seperti percampuran antara lembar seng dan kanvas dengan lukisan abstrak yang dominan oleh warna-warna terang.

Pemimpin itu duduk di singgasananya. Sebuah kursi yang sama jangkungnya dengan Sirin dan terbuat dari perak murni. Ia sendirian di padang pasir itu, siulan angin berputaran di sekelilingnya. Cahaya redup kemerahan memancar entah dari mana, melaburkan aroma penderitaan. Seakan-akan seluruh padang pasir itu dihuni roh-roh yang tak diterima bumi dan langit. Ketika pemimpin itu berbicara, suaranya lembut namun terasa tajam. Seperti sebilah pisau baru yang siap dipakai menyayat leher ternak.

Sirin mendengar orang itu berkata, "Siapa yang telah mengutusmu?"

Malam akhir tahun memanggil gulungan angin untuk mengusir uap air yang menggumpal di awan-awan. Mars, si bintang merah, berkilau di kejauhan. Di dekatnya ada bintang lain berwarna putih, seperti sedang menjaga majikannya, planet yang nanti akan didatangi manusia dalam suatu ekspedisi besar-besaran setelah kiamat menimpa bumi. Sirin percaya bahwa pada hari kiamat ia akan dibawa oleh sejenis kapsul peluncur ke suatu tempat yang baru. Di mana pohon-pohon memiliki kekuasaan dan matahari bersinar dari bawah. Kepercayaan itu berdasar pada kepercayaan yang lain, bahwa Sirin hidup abadi.

Ada banyak manusia abadi di bumi, dari yang kelihatan sampai yang hanya ada dalam mimpi- mimpi. Sebagian dari mereka berumah di tanah-tanah tinggi, berkelana sebagai pendekar, dan sebenarnya tidak sungguh-sungguh abadi. Sebab, mereka bisa terbunuh oleh kaum sendiri, manusia abadi yang lain, dengan cara dipenggal kepalanya. Sebagian yang lain hidup di antara kita, tampak normal seperti manusia lainnya. Hanya saja, mereka tidak pernah menjadi tua, dan kalau diperhatikan, pada saat-saat tertentu mata mereka berkedip secara horizontal. Mereka yang berasal dari jenis ini adalah manusia-manusia yang tidak dilahirkan, melainkan diturunkan dari suatu tempat yang tingginya tak bisa dikira-kira.

Sirin bukan dari golongan keduanya. Dia mendapat nubuat bahwa dirinya abadi ketika berusia 7 tahun. Waktu itu ia sedang bermain-main di taman dekat rumah, ketika dilihatnya seekor ular melilit sebatang pohon tanpa cabang dan ranting. Pohon itu hanya memiliki satu batang, satu daun, dan satu buah, bagaikan sebuah tonggak yang ditancapkan secara gaib. Sirin mendengar ular itu berderik, ekornya bergerak-gerak, dan lidahnya yang biru terjulur. Perlahan ular itu melepaskan lilitannya pada batang pohon dan bergerak naik menuju sebutir buah yang bentuknya tak pernah dilihat Sirin sebelumnya. Kelak di kemudian hari, saat Sirin belajar biologi, ia melihat bentuk jantung manusia dan teringat pada buah itu.

Ketika sampai di dekat buah, ular itu menatap ke arah Sirin. Takjub dengan apa yang dilihatnya Sirin mendekati pohon, dan tepat pada saat itu buah itu jatuh dan dengan sigap Sirin menangkapnya. Buah itu berdenyut di tangannya, warnanya berubah-ubah; hijau, ungu, hitam, merah. Suatu suara yang seperti berasal dari jarak yang sangat jauh sampai di telinga Sirin, "Siapa yang telah mengutusmu?" Sirin melihat sekitarnya untuk memastikan siapa yang berbicara. Tetapi tak ada siapa-siapa. Dirasakannya cahaya pelan-pelan meredup, seperti terisap oleh lubang yang sangat besar. Udara bergerak menekan, dingin, semakin dingin membuat tubuh Sirin menggigil, giginya gemelutuk dan rasa takut mencekamnya sampai ke sumsum tulang. "Cepat, makanlah buah itu. Makan, atau kau akan tersesat di sini selama-lamanya." Sirin menatap ke arah pohon, dari mana suara itu berasal. Dalam temaram ia lihat ular itu sudah tidak ada, yang ada adalah seseorang, bergelayut di batang pohon dengan kedua tangannya. Sirin tidak bisa memastikan apakah orang itu laki-laki atau perempuan, meskipun ia tahu orang itu telanjang bulat, cahaya yang semakin redup membuat Sirin tanpa berpikir lagi segera melahap buah di tangannya.

Seketika itu juga pandangannya menjadi benderang. Jernih dan tajam. Taman di mana ia berada terlihat dengan jelas, suatu pemandangan yang tidak akan bisa dijelaskan dengan kata-kata meskipun semua bahasa yang pernah ada digabung menjadi satu. Pemandangan yang belum pernah tertangkap mata, terdengar telinga, bahkan tebersit di hati manusia.

Mungkin peristiwa itu hanya mimpi semata, sebab kemudian ayahnya menemukannya tertidur di bangku taman. Tapi semenjak itu Sirin tidak pernah lagi bermimpi. Tidurnya kosong tanpa gambar atau suara apa-apa. Seakan-akan apa yang semestinya dilihat dan dialaminya dalam tidur telah meloncat ke alam nyata. Ruang dan waktu tak memiliki ketetapan bagi Sirin. Bergerak tanpa aturan, menyeret sejarah, dongeng, angan-angan, dan mitos dalam satu tarikan bagaikan gelombang laut mengempas di bibir pantai dan menebarkan remah-remah cerita melalui benda-benda mati yang dibawanya.

Eksistensinya pun mengikuti gerak kacau itu. Suatu kali Sirin adalah seorang bayi laki-laki yang lahir di kandang ternak ketika pada suatu malam yang dingin dan kudus, sebutir bintang bersinar lebih terang dari biasanya. Kali lain Sirin adalah remaja yang melihat bagaimana ayahnya, yang wajahnya memancarkan iman sekaligus keraguan, dengan pisau bergetar di tangan, bersiap menyembelihnya di sebentang padang penggembalaan. Dan di waktu lainnya, ia seorang laki-laki tua yang dikejar-kejar suatu pasukan besar, lalu karena seberkas bisikan, tongkat di tangannya ia ayunkan dan tiba-tiba laut di hadapannya terbelah. Pun bisikan yang sama telah mendorongnya, di lain waktu, membuat bahtera besar, yang dapat menampung semua makhluk hidup yang ada, beberapa waktu sebelum banjir besar menerjang seluruh permukaan bumi.

Dalam pergerakan waktu yang kacau itu, Sirin mendengar atau membaca kembali semua kisah yang dialaminya, dari orang-orang, atau dari buku-buku yang dibacanya. Tetapi tidak satu pun dari cerita-cerita itu menyebut namanya.

Seluruh indranya semakin hari semakin tajam sehingga ia bahkan bisa melihat miliaran bakteri di udara. Ia bisa melihat sel yang melakukan pertarungan dengan alam, berevolusi menjadi aneka makhluk hidup. Ia ingin mengatakan pada orang-orang bahwa ada yang telah diturunkan dari suatu tempat yang tingginya tak bisa dikira-kira. Mereka melakukan invasi ke bumi dengan maksud menaklukkan penghuni sebelumnya dan menguasai planet kehidupan ini. Ia juga bisa menyaksikan dengan jelas bagaimana proton, elektron, dan neutron membentuk atom. Memulai pertarungan yang membuat kecacatan dan melahirkan unsur kimia yang berbeda-beda.

Ia ingin mengatakan pada orang-orang, perihal semua yang dialaminya. Tapi Sirin tahu tidak akan ada yang percaya padanya.

Sampai ia nanti bertemu denganku.

Aku, makhluk lata tak berkelamin yang telah diutus menjadi pemimpin bagi mereka yang ingkar. Sebagian besar manusia telah mendengar dan meyakini keberadaanku. Mereka tahu bahwa kelak keturunan mereka akan melihatku, bila saatnya tiba, ketika kekacauan sudah tak bisa dikendalikan lagi dan manusia hidup dalam kelompok-kelompok kecil yang saling membunuh. Sebagian lain tidak percaya bahwa aku benar-benar ada, meskipun mereka juga telah mendengar namaku disebut berkali-kali oleh orang-orang suci dan juru khotbah di mimbar-mimbar. Bagi mereka, keberadaanku sama omong kosongnya dengan kisah anak durhaka yang dikutuk menjadi batu, putri kerajaan tepi pantai yang berubah menjadi cacing laut untuk menghindari perang, atau kisah pemuda yang menikahi bidadari setelah mencuri selendangnya ketika bidadari itu sedang mandi.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved