Cerpen Kiki Sulistyo

Keabadian Sirin

MIMPI pertama Sirin setelah bertahun-tahun tak melihat apa pun dalam tidurnya adalah bertemu dengan seorang pemimpin di sebentang padang pasir.

Keabadian Sirin
ILustrasi Cerpen Keabadian Sirin 

Dalam pergerakan waktu yang kacau itu, Sirin mendengar atau membaca kembali semua kisah yang dialaminya, dari orang-orang, atau dari buku-buku yang dibacanya. Tetapi tidak satu pun dari cerita-cerita itu menyebut namanya.

Seluruh indranya semakin hari semakin tajam sehingga ia bahkan bisa melihat miliaran bakteri di udara. Ia bisa melihat sel yang melakukan pertarungan dengan alam, berevolusi menjadi aneka makhluk hidup. Ia ingin mengatakan pada orang-orang bahwa ada yang telah diturunkan dari suatu tempat yang tingginya tak bisa dikira-kira. Mereka melakukan invasi ke bumi dengan maksud menaklukkan penghuni sebelumnya dan menguasai planet kehidupan ini. Ia juga bisa menyaksikan dengan jelas bagaimana proton, elektron, dan neutron membentuk atom. Memulai pertarungan yang membuat kecacatan dan melahirkan unsur kimia yang berbeda-beda.

Ia ingin mengatakan pada orang-orang, perihal semua yang dialaminya. Tapi Sirin tahu tidak akan ada yang percaya padanya.

Sampai ia nanti bertemu denganku.

Aku, makhluk lata tak berkelamin yang telah diutus menjadi pemimpin bagi mereka yang ingkar. Sebagian besar manusia telah mendengar dan meyakini keberadaanku. Mereka tahu bahwa kelak keturunan mereka akan melihatku, bila saatnya tiba, ketika kekacauan sudah tak bisa dikendalikan lagi dan manusia hidup dalam kelompok-kelompok kecil yang saling membunuh. Sebagian lain tidak percaya bahwa aku benar-benar ada, meskipun mereka juga telah mendengar namaku disebut berkali-kali oleh orang-orang suci dan juru khotbah di mimbar-mimbar. Bagi mereka, keberadaanku sama omong kosongnya dengan kisah anak durhaka yang dikutuk menjadi batu, putri kerajaan tepi pantai yang berubah menjadi cacing laut untuk menghindari perang, atau kisah pemuda yang menikahi bidadari setelah mencuri selendangnya ketika bidadari itu sedang mandi.

Tapi takdirku sudah ditetapkan. Kaumku lahir satu per satu, jumlah mereka semakin banyak. Mereka menempuh suatu rangkaian pengalaman di muka bumi, sampai jiwa mereka menyatakan sumpah untuk masuk sebagai bagian dari kaumku. Mereka akan abadi setelah itu, terikat oleh seluruh kenistaan yang pernah ada. Mereka akan membuat semua manusia bersatu dalam ordo baru yang, kelak, dalam suatu upacara suci bakal dilebur kembali menjadi aku. Aku yang esa.

Aku telah menunggu sekian lama di padang pasir ini. Di atas singgasanaku, sebuah kursi jangkung dari perak murni. Aku mengenakan topi tinggi berhiaskan bulu burung. Ketahuilah, itu bulu burung Simurgh, sang raja yang telah kumusnahkan di masa lampau, dan membuat semua unggas di bumi tak bisa menemuinya lagi. Cahaya kejahatan menjadi pakaianku, cahaya yang berwarna terang. Tiap saat tubuhku kian membesar, kulitku kian legam terbakar dosa-dosa manusia. Aku menunggu saat ketika terompet ditiup di barat cakrawala. Kaumku akan keluar dari dalam tanah, memercik dari udara penuh racun kimia, melompat dari laut yang hanya bisa diduga kedalamannya.

Untuk sampai ke masa gemilang itu, aku hanya perlu mengulang satu peristiwa yang pernah terjadi sebelumnya: pertemuan dengan Sirin. Makhluk yang diciptakan dari tragedi. Aku pernah bertemu dengannya di sebuah taman ketika waktu belum dibentuk. Aku tahu, di padang pasir ini, aku akan bertemu kembali dengannya. Ia akan menceritakan rahasia yang sudah lama ingin kuketahui. Perihal sebuah kapsul-luncur yang akan membawa kami kembali ke taman itu, mengembalikan ia ke dalam diriku. Hingga aku sempurna sebagai yang satu-satunya.

Tapi sebelum semuanya terjadi, aku harus bertanya padanya,

"Siapa yang telah mengutusmu?"

***

Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved