Breaking News:

Cerpen S Prasetyo Utomo

Tarian Sufi

Belum lama Wisnu duduk, ditinggal sopir taksi yang akan menjemputnya nanti malam, seorang gadis menghampiri, mohon diperkenankan duduk di hadapannya.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Tarian Sufi 

Tarian sufi inilah yang membuat Wisnu mendesir-desir di dalam dadanya, menyentak-nyentak erat nadinya. Ketika tarian itu selesai, ia belum bisa bangkit dari tempat duduknya. Masih terpaku: ingin kembali menyaksikan tarian dari awal mula. Ingin dirasuki petikan lute.

**

DI ruang ganti pakaian, Dewi Laksmi masih menyungging senyum, merasakan ketenteraman dan kegairahan selesai menari sufi. Dewi Laksmi buru-buru menemui Alya, yang selama ini mengajarinya menari sufi. Alya takjub pada Dewi Laksmi yang sangat cepat menyerap gerak tari sufi, dan bisa menghayatinya seperti menenggelamkan seluruh jiwanya dalam zikir memutar berlawanan arah jarum jam.

Lelaki semacam apakah yang bisa menerima Dewi Laksmi, seorang penari yang senantiasa terus mengeksplorasi tubuhnya untuk menari?

"Semalam saya bertemu seorang jejaka menawan di kedai kopi," kata Alya. "Rasanya aku tertarik padanya. Tentu, kalau kau bersua dengannya, juga akan jatuh hati."

"Aku sudah punya calon suami, Alya."

"Siapa tahu, kau akan berubah pikiran."

"Apa kau serius akan menikah dengan lalaki pribumi?"

"Aku tak mungkin pulang ke negeriku. Aku akan ditangkap. Kekasihku juga sudah ditangkap dan dipenjara. Tolong, carikan aku seorang kekasih."

"Bukankah semalam kau sudah menemukan lelaki itu?"

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved