Cerpen S Prasetyo Utomo
Tarian Sufi
Belum lama Wisnu duduk, ditinggal sopir taksi yang akan menjemputnya nanti malam, seorang gadis menghampiri, mohon diperkenankan duduk di hadapannya.
Wisnu menginap di hotel itu memang untuk menonton tari sema. Alya lebih dulu meninggalkan Wisnu. Taksi yang menjemputnya sudah menanti. Ia menenggak sisa kopi pada gelasnya. Berpamitan, membayar, dan berlari kecil ke arah taksinya. Gadis Turki itu sempat melambai ke arah Wisnu. Sepasang matanya bulat, jernih, dan memancarkan renungan.
Wisnu masih termangu di bawah pohon jambu, sendirian, mencecap pelan-pelan kopi tarik tanpa sisa. Ia tak ingin mengunjungi Dewi Laksmi. Besok pagi ia akan bersua calon istrinya itu, yang akan menari sufi di ruang pertunjukan hotel tempatnya menginap.
**
TARIAN sufi di ruang pertunjukan hotel menampilkan para penari perempuan Turki dan penari setempat. Wisnu menikmati tarian itu, pada pagi hari, dalam hening. Ada sembilan penari. Wisnu tak pernah bisa menerka, manakah Dewi Laksmi, calon istrinya, yang menari di antara para penari sufi, berbaju serbaputih yang mengembang serupa kelopak bunga mawar rekah, lantaran para penari itu berputar, berlawanan arah putaran jam, dengan tangan terentang sebahu, tengadah, telapak tangan terbuka. Putaran para penari sufi itu begitu tenang, hening, menghanyutkan diiringi petikan lute yang menyusup ke relung jiwa.
Alangkah berbedanya tarian sufi dengan tari perut yang pernah disaksikan Wisnu di kelab malam Kairo, diiringi darbuka, lute, fiolin, dan tambolin dengan nada yang sama. Yang menggetarkan perasaannya kali ini tubuh penari sufi yang berputar itu memberinya ketenangan, keindahan, penerimaan, dalam kesenyapan zikir, kain yang berkibas mengembang, dan sepasang mata yang terjaga. Tidak terpejam, seperti yang disangka Wisnu. Ia menjadi malu dengan diri sendiri, pernah menonton tari perut di kelab malam Kairo, diam-diam, seorang diri, dan baru pulang ke hotel menjelang dini hari dengan kegelisahan seorang lelaki muda.
Tarian sufi inilah yang membuat Wisnu mendesir-desir di dalam dadanya, menyentak-nyentak erat nadinya. Ketika tarian itu selesai, ia belum bisa bangkit dari tempat duduknya. Masih terpaku: ingin kembali menyaksikan tarian dari awal mula. Ingin dirasuki petikan lute.
**
DI ruang ganti pakaian, Dewi Laksmi masih menyungging senyum, merasakan ketenteraman dan kegairahan selesai menari sufi. Dewi Laksmi buru-buru menemui Alya, yang selama ini mengajarinya menari sufi. Alya takjub pada Dewi Laksmi yang sangat cepat menyerap gerak tari sufi, dan bisa menghayatinya seperti menenggelamkan seluruh jiwanya dalam zikir memutar berlawanan arah jarum jam.
Lelaki semacam apakah yang bisa menerima Dewi Laksmi, seorang penari yang senantiasa terus mengeksplorasi tubuhnya untuk menari?
"Semalam saya bertemu seorang jejaka menawan di kedai kopi," kata Alya. "Rasanya aku tertarik padanya. Tentu, kalau kau bersua dengannya, juga akan jatuh hati."
"Aku sudah punya calon suami, Alya."
"Siapa tahu, kau akan berubah pikiran."
"Apa kau serius akan menikah dengan lalaki pribumi?"
"Aku tak mungkin pulang ke negeriku. Aku akan ditangkap. Kekasihku juga sudah ditangkap dan dipenjara. Tolong, carikan aku seorang kekasih."
"Bukankah semalam kau sudah menemukan lelaki itu?"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/tarian-sufi_20170311_222611.jpg)