Breaking News:

Cerpen S Prasetyo Utomo

Tarian Sufi

Belum lama Wisnu duduk, ditinggal sopir taksi yang akan menjemputnya nanti malam, seorang gadis menghampiri, mohon diperkenankan duduk di hadapannya.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Tarian Sufi 

Alya berkisah tentang calon suaminya, seorang militer, yang ditangkap pemerintah Turki lantaran dituduh turut melakukan kudeta. Urunglah rencana mereka untuk menikah. Bahkan kekasihnya berpesan agar Alya tak buru-buru pulang ke Turki. Sekolah internasional tempat Alya mengajar didirikan yayasan milik tokoh yang dianggap dalang kudeta, tinggal di Pennsylvania. Alya tak mungkin pulang ke negeri leluhurnya. Tiap kali ia kangen kepada ayah dan kekasihnya, yang gemar minum kopi, ia berkunjung ke kedai ini seorang diri. Berbincang-bincang dengan orang-orang yang ditemuinya sebagai teman duduk. Sekolah internasional tempatnya mengajar tak jauh dari kedai kopi. Ia akan dijemput taksi bila selesai minum.

"Kau sedang menanti seseorang?" tanya Alya.

"Aku sedang membunuh sepi. Bosan tinggal di hotel. Sopir taksi membawaku ke kedai kopi ini."

Alya banyak bercerita tentang kegiatannya sebagai seorang penari Mawlaw'iyya, tarian sufi yang berputar sebagai bentuk zikir. Ia pengagum Jalaludin Rumi, sering mementaskan tarian sema justru ketika jauh dari negerinya.

"Besok pagi di hotel tempatmu menginap, kami mempergelarkan tari sema, bersama dengan penari-penari pribumi."

Wisnu menginap di hotel itu memang untuk menonton tari sema. Alya lebih dulu meninggalkan Wisnu. Taksi yang menjemputnya sudah menanti. Ia menenggak sisa kopi pada gelasnya. Berpamitan, membayar, dan berlari kecil ke arah taksinya. Gadis Turki itu sempat melambai ke arah Wisnu. Sepasang matanya bulat, jernih, dan memancarkan renungan.

Wisnu masih termangu di bawah pohon jambu, sendirian, mencecap pelan-pelan kopi tarik tanpa sisa. Ia tak ingin mengunjungi Dewi Laksmi. Besok pagi ia akan bersua calon istrinya itu, yang akan menari sufi di ruang pertunjukan hotel tempatnya menginap.

**

TARIAN sufi di ruang pertunjukan hotel menampilkan para penari perempuan Turki dan penari setempat. Wisnu menikmati tarian itu, pada pagi hari, dalam hening. Ada sembilan penari. Wisnu tak pernah bisa menerka, manakah Dewi Laksmi, calon istrinya, yang menari di antara para penari sufi, berbaju serbaputih yang mengembang serupa kelopak bunga mawar rekah, lantaran para penari itu berputar, berlawanan arah putaran jam, dengan tangan terentang sebahu, tengadah, telapak tangan terbuka. Putaran para penari sufi itu begitu tenang, hening, menghanyutkan diiringi petikan lute yang menyusup ke relung jiwa.

Alangkah berbedanya tarian sufi dengan tari perut yang pernah disaksikan Wisnu di kelab malam Kairo, diiringi darbuka, lute, fiolin, dan tambolin dengan nada yang sama. Yang menggetarkan perasaannya kali ini tubuh penari sufi yang berputar itu memberinya ketenangan, keindahan, penerimaan, dalam kesenyapan zikir, kain yang berkibas mengembang, dan sepasang mata yang terjaga. Tidak terpejam, seperti yang disangka Wisnu. Ia menjadi malu dengan diri sendiri, pernah menonton tari perut di kelab malam Kairo, diam-diam, seorang diri, dan baru pulang ke hotel menjelang dini hari dengan kegelisahan seorang lelaki muda.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved