Breaking News:

Cerpen Kurnia Effendi

Arus Deras

"Karena perasaanmu seperti pendaki yang berhasil mencapai puncak dan memandang keindahan lembah di bawah sana."

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Arus Deras 

"Paling tidak saat aku cerita padamu."

"Bisa saja kamu membual...."

"Beruntung kamu tidak percaya."

"Sebetulnya, apa yang kalian lakukan selain berdansa?"

"Ha-ha-ha, jadi kamu percaya?"

"Anggap saja demikian."

"Tak ada lagi. Paling sesudah itu minum. Aku minum anggur. Syam minum kopi."

"Setelah itu?"

"Tak ada lagi."

"Aku tak percaya."

"Aku tak mengharapmu percaya... aduh!"

"Maaf... tidak sengaja."

"Dasar!"

"Ratna, aku mau mengatakan sejujurnya tentang kamu."

"Apa?"

"Kamu ranum."

"Matang pohon! Aduh! Pi'i! Sekali lagi, kupukul kamu!"

"Aku selalu tergoda oleh keindahan."

"Apakah itu perilaku seorang nasionalis?"

"Perilaku yang mana?"

"Menawanku di sini sepanjang hari."

"Hm, sebenarnya ini semacam perayaan. Itu sebabnya aku kabarkan kepadamu bahwa aku sudah punya panutan dan wadah untuk berjuang. Begini, aku sedang membayangkan, dirimu adalah tanah air yang kulindungi, bangsa yang tumbuh bersama pikiran-pikiranku, hak milik yang harus dipertahankan sampai titik darah penghabisan, hiasan dalam hidupku... itulah nasionalisme."

"Semakin tak membuatku paham. Sebetulnya ada puisi yang lebih indah ketimbang itu."

"Buatan Pit Liong?"

"Bukan. Ini penyair Amerika. Emily Dickinson."

"Masih hidupkah dia?"

"Kurasa sudah lama meninggal. Lebih 30 tahun yang lalu."

"Oh... kapan-kapan aku mau baca jika ada hubungannya dengan pergerakan kami."

"Tidak ada hubungannya. Maksudku pilihan katanya lebih indah dibanding bahasamu yang berbunga-bunga mengenai nasionalisme itu."

"Eh, dengar, Ratna! Ini bukan persoalan bahasa berirama. Tapi letupan harapan dari degup jantung yang berirama."

"Sebentar, aku potong. Bukankah irama degup jantungmu itu tercipta karena aku sedang berada di dekatmu? Awas tanganmu! Ih, nakal!"

"Ayo, teruskan! Sebelum aku yang melanjutkan omongan."

"Aku ingin kembali bertanya. Itukah yang kamu maksud dengan nasionalisme?"

"Aku sudah menjelaskan, bukan? Setidaknya, itulah yang kuserap dari pidato Mas Kusno. Ah, kamu tidak merasakannya, Ratna. Begitu terpesonanya aku saat dia bicara di atas meja. Wajahnya cemerlang. Banyak perempuan bogoh kepadanya. Bahkan...."

"Ya?"

"Kenapa kamu memandangku begitu?"

"Aku mau usul kamu berdiri di atas meja juga, agar tampak seperti idolamu itu."

"Ha-ha-ha. Bahkan Bu Enggit, induk semangnya, rela bercerai dengan suaminya karena tersirap pada karismanya! Lalu menikah dengan pemuda itu. Menjadi pijar yang membakar semangatnya. Rumahnya di Ciateul menjadi istana pencerahan bagi kami."

"Oh, jadi seorang nasionalis adalah kaum pencinta atau kaum yang dicinta. Pembawa istri orang, memberi pengaruh dahsyat kepada para pemujanya. Lalu... lalu, di ruangan ini, kamu adalah seorang nasionalis?"

"Hei, hati-hati kamu bicara, Sayang! Kamu hanya memandang permukaannya saja."

"Kamu pun demikian ketika menilai seseorang. Hanya menangkap yang terdengar, bukan menggali yang terpendam di dalamnya. Berjuang bagi seseorang akan berbeda dengan seseorang yang lain. Lalu, seperti apa kamu menyebut diri sebagai pejuang?"

"Ha-ha-ha, tolong pisahkan antara jiwa yang berjuang dengan jiwa yang kasmaran...."

"Kamu sendiri mengejek Raden Saleh sebagai seorang oportunis, bermewah-mewah di negeri yang menjajah tanah airnya. Ia tak peduli terhadap penderitaan kaumnya di Hindia. Dia berkasih- kasihan dengan para perempuan bangsawan di Eropa. Rajin menghadiri pesta. Jadi, apa bedanya dengan cara menilaimu?"

"Tentu saja berbeda, Ratna. Aku kini bergabung dengan Partai Nasional Indonesia. Kita sudah punya kendaraan untuk persiapan menjadi negara mandiri. Melalui partai, suara kita dihimpun menjadi sebuah senjata. Kita sedang bersiap-siap menuju hari depan yang lebih baik."

"Kita bicara yang lain saja. Atau kita pulang."

"Ah, kamu tidak menghargai semangatku yang menyala-nyala."

"Tapi aku tidak suka bicara politik. Sudah kubilang sejak tadi."

"Baiklah. Semangatku ini bisa kuganti arah, hm... tetaplah di situ."

"Maksudmu?'

"Aku sedang menujumu. Biarlah kali ini aku menjadi sang pemuja."

"Jangan berlagak! Jarakmu cuma sejengkal, sungguh ungkapan yang berlebihan! Dasar komodo!"

"Ha-ha-ha... aku menyukai wajahmu yang bersemu merah. Terutama hidungmu. Kamu tahu, itu pertanda apa?"

"Aku tidak mau menjawab!"

"Tak baik tersipu di depan kekasihmu. Jangan menunduk. Aku mau menggambar lagi. Wajah dan tubuhmu ini kanvas yang menantang. Sayangnya tak ada es krim di sini."

"Sesudah ini kita pulang, ya?"

"Sesudah apa, Ratna?"

"Aku tidak mau menjawab!"

"Baiklah. Aku juga tak berniat menginap."

"Kita tak bisa memandang warna langit. Tapi aku yakin sekarang sudah sore."

"Tetapi salah satu dari kita bisa memandang lukisan di langit-langit, bukan? Mau pilih? Siapa yang ingin memandang lukisan?"

"Aku tidak mau menjawab, Pi'i!"

"Aih, wajahmu semakin memerah. Aku seperti hendak panen stroberi. Dengan apa aku memetiknya? Malaikat pun kukira setuju, engkau memang ranum."

"Waktu habis!"

"Ssst, kalau kamu yang memandang lukisan, pikiranmu akan mengembara ke mana-mana. Terutama kepada pelukisnya, sang Pangeran itu. Jadi, kini biarlah aku yang menghadap ke arah lukisan."

"Tampaknya kamu memang nakal sejak sebelum lahir, ya?"

"Ha-ha-ha. Ratna, boleh aku tanya?"

"Apa?"

"Mengapa kamu menyukai lukisan?"

"Hmm, kenapa ya? Mungkin karena aku pernah belajar melukis. Seorang juru sungging dari Jerman mengajarku beberapa bulan. O, ya. Belakangan aku suka diajak Petronella melihat galeri lukisan, melihat koleksi tunangannya. Dari situ tampaknya aku mulai jatuh cinta pada lukisan. Lalu Nella memperkenalkanku pada Syam."

"Boleh tanya hal lain?"

"Apa?"

"Berapa berat tubuhmu?"

"Coba kulihat angka di matamu. Hmm... 51 kilo."

"Nah, lebih baik kamu memandang ke dalam mataku. Banyak hal yang membuatmu jadi lebih pintar, uf! Mmmfff."

"Diam! Dengan terpejam aku banyak melihat yang tak tampak."

"Kau semakin pintar, Ratna. Mmmfff."

***

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved