Cerpen Ida Fitri
Ruh Saman
DI bawah hujan, Puteh terus menari. Tangan dan dada ditepuk, silih berganti. Gerak guncang, kirep, linggang, dan surang-saring ia lakukan
"Saleh dan rombongannya...."
"Kenapa dengan Saleh, Mak Wa?"
"Kaphe Belanda telah menghadang rombongan mereka. Saleh dan rombongan dibedil tanpa ampun. Salah seorang yang selamat barusan datang pada Abu Wa-mu."
Rasa sesak mengimpit dada Nyak Puteh. Darahnya bergelegak. Kaphe perampas itu memang tak bisa dimaafkan. Rasa sakit menghunjam dada. Ia tidak tahu kenapa. Padahal sebelumnya ia begitu sedih karena tidak bisa menari ke kutaraja. Tapi rasa sedih kali ini berbeda. Tak ada bening jatuh di sudut mata. Ia tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya.
**
BULAN kesatu tahun 1900....
Seorang perempuan berwajah keras duduk di atas kursi, di sampingnya seorang perempuan muda ikut duduk menopang dagu. Perempuan lain juga berkumpul membentuk sebuah lingkaran yang cukup besar. Di tengah-tengahnya, sebuah tikar digelar. Kemudian beberapa perempuan mulai masuk untuk menari. Seorang syeh perempuan menyanyikan syair-syair perjuangan, tentang keberanian Malahayati menghalau kapal Portugis.
"Siapa perempuan Syeh Saman itu, Ibunda?" tanya perempuan muda pada sang ibu.
"Itu Nyak Puteh, Anakku."
"Aku ingin seperti dia, Ibunda." Perempuan berwajah keras itu menatap anaknya.
"Coba Ibunda lihat, semua perempuan yang berada di sini sudah tidak sabaran untuk membunuh kaphe besok. Itu kenapa? Karena perempuan Syeh Saman itu sudah mengambil rasa takut dari hati mereka."
"Itu karena suaminya dibunuh Belanda, Nyak Gambang."
"Ibunda lupa kalau serdadu Belanda juga telah menembak ayahku?"
"Tapi kamu harus menggantikan Ibunda nanti. Memimpin untuk melawan kaphe-kaphe itu."
"Setiap perempuan di sini bisa menggantikanmu, Ibunda. Mereka bisa kalau memiliki keberanian. Dan aku, putrimu, yang akan meletakkan keberanian di hati mereka."
Perempuan berwajah tegas itu menatap putrinya sesaat, kemudian menatap Syeh Saman yang sedang menyanyikan lagu perjuangan. Ia tidak membantah atau mengiyakan sang putri. Benteng Inong Balee terlarut dalam hikayat sang Syeh Saman.
***
Pungo: gila
Seuramo reungeun: bagian depan rumah Aceh
Kaphe: sebutan untuk Belanda
Abu Wa: paman
Mak Wa: bibi
Nyak: Sapaan untuk Nak
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ruh-saman_20170218_204417.jpg)