Cerpen Ida Fitri
Ruh Saman
DI bawah hujan, Puteh terus menari. Tangan dan dada ditepuk, silih berganti. Gerak guncang, kirep, linggang, dan surang-saring ia lakukan
"Sekarang kamu tidur, ya, Nyak Puteh." Sang ayah menidurkan putrinya di atas pangkuan.
"Puteh takut, Abu."
"Tidak apa-apa, Nyak," ujar lelaki itu seraya menyenandungkan saur, lagu yang diulangi bersama dalam saman.
Sejak saat itu, Puteh menjadi hafal syair-syair saman. Abunya seorang Syeh Saman, penyanyi yang menjadi pemimpin kelompok penari saman. Puteh sangat bahagia memiliki Abu. Hingga pada suatu malam sepulang menari badan Abu demam tinggi. Lelaki itu menggigil. Ia berjalan terseok ke dapur rumah tiang mereka untuk memanaskan air.
Puteh terbangun mendengar suara benda jatuh dari dapur. Betapa terkejutnya mendapati tubuh Abu telah beku di depan tempat persegi panjang yang diberi tiang kemudian diisi abu dapur sebagai tempat untuk meletakkan tungku. Semenjak saat itu Abu tak pernah bangun lagi. Abu ikut mengaji pada Tuhan bersama sang Ibu. Rupanya Tuhan juga lebih menyayangi Abu. Semenjak saat itu Puteh tinggal bersama keluarga Syeh Lah Geunta, teman bermain saman Abu.
**
SIRIH dan kapur diatur sedemikian rupa dalam cerana. Seorang perempuan tua memegang tempat itu. Matanya sesekali melihat ke halaman. Rumah Aceh bertiang dua puluh empat itu dipenuhi sanak kerabat. Mereka sedang menunggu keluarga linto baro, sang pengantin lelaki yang berasal dari kampung sebelah.
Jemari kaki dan tangan Puteh telah dihiasi inai. Bajunya dihiasi benang-benang kuning di ujung lengan dan di kerah. Kain songket dipasangkan hingga lutut. Di bawah itu sehelai celana panjang dengan hiasan kasab keemasan di ujung kaki melengkapi keanggunan gadis itu. Sehelai kain menutupi kepalanya. Hanya wajah perempuan itu terlihat sedikit sendu.
Di halaman depan tikar digelar. Sepuluh lelaki sedang menarikan saman. Para lelaki desa menyaksikannya dengan penuh semangat. Syeh Lah Geunta hendak mengawinkan putri angkatnya yang juga berayah seorang syeh saman.
Suara Syeh Saman, tepukan di dada dan tangan terdengar silih berganti. Semua orang bergembira, tapi Puteh menginginkan Abu-nya. Sejujurnya ia belum siap mengarungi rumah tangga. Ia ingin menari ke kutaraja, tapi saman bukan milik perempuan. Setitik bening mengalir di sudut mata.
Saleh menemuinya seminggu yang lalu. Lelaki itu cukup santun dan terlihat menyukainya. Hidung lelaki itu mancung dan kedua alisnya tebal. Konon katanya, kakek Saleh berasal dari Kerajaan Ottoman. Yang lebih penting lagi, Saleh adalah Aneuk Syeh dalam grup saman ayah angkatnya. Jika tidak bisa menari saman, mungkin Puteh bisa melahirkan penari saman kelak. Memberikan cucu yang mahir bermain saman untuk Abu. Gadis itu berusaha menghibur diri. Syeh Lah Geunta sudah sangat baik padanya, tak boleh ia mengecewakan lelaki itu. Lelaki terhormat yang sampai memohon pada seorang gadis agar bersedia untuk menikah. Padahal gadis itu bukanlah anak perempuannya.
Suara Syeh Saman di halaman seperti lenyap tertelan bumi. Kemudian terdengar suara riuh rendah yang tidak begitu jelas. Jantung Puteh berdetak lebih kencang. Tidak seharusnya saman dipangkas begitu saja. Mungkinkah rombongan linto baro sudah datang?
Hati Puteh tidak keruan. Ia bangkit beranjak ke pintu depan. Seorang perempuan menahannya. Tidak selayaknya sang dara baro berjalan ke sana-kemari. Dara baro itu harus duduk di atas kasur bersulam. Menanti linto baro datang, kali ini Puteh memilih untuk patuh.
Hanya Mak Wa Saudah datang dengan raut tak karuan. Istri Syeh Lah Geunta itu langsung memeluk Puteh.
"Ada apa, Mak Wa?"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ruh-saman_20170218_204417.jpg)