Cerpen Sungging Raga

Arsitektur Kesunyian

JIKA Anda berkunjung ke Stasiun Karawang di Jawa Barat dan Stasiun Rambipuji di Jawa Timur, Anda akan mendapati bangunan keduanya sangat mirip.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Arsitektur Kesunyian 

Kabar kedekatan itu pun sampai ke telinga ayahnya.

"Benarkah kau dekat dengan pribumi pembuat denah itu?"

"Ya, Ayah. Aku mencintainya. Ia sangat jujur dan sederhana."

"Tapi Nalea, kau hanya jatuh cinta pada stasiun rancangannya, kau tidak boleh mencintai pribumi."

"Ayah, jika aku mencintai sebuah karya seni, maka aku juga berhak mendapatkan senimannya."

"Teori dari mana itu? Apakah jika kau menyukai sebuah cerita pendek, kau juga ingin mendapatkan penulisnya? Jangan sembarangan!"

Bagi sang jenderal, adalah aib yang besar jika sampai anaknya terpikat dengan pribumi. Maka, setelah stasiun itu selesai, Salem dipanggil menghadap Jenderal.

Salem tentu sangat bahagia. Dalam bayangannya, ia mengira hubungannya akan direstui.

Namun ternyata.... Ia ditangkap.

"Kau harus diasingkan," ucap Jenderal kepada Salem. Kemudian Jenderal memerintah kepada ajudannya. "Antarkan dia ke suatu tempat yang bahkan aku pun tidak berpikir untuk berkunjung ke sana sampai aku mati."

Maka esok harinya, mereka memasukkan Salem ke sebuah gerbong yang telah siap ditarik sebuah lokomotif uap. Kejadian itu membuat Nalea ditimpa kesedihan mendalam, ia mengunci kamarnya dan berusaha menelan kunci itu ke dalam perutnya.

Tapi tunggu. Apa yang dialami Salem tidaklah seburuk kisah pejuang yang dipaksa masuk berjejal ke dalam gerbong barang dari Stasiun Bondowoso hingga Wonokromo, yang akhirnya banyak melepas nyawa dengan kulit mengelupas karena udara panas berjam-jam lamanya. Tidak, Salem diantar dengan pengawalan terbaik, ia berada di sebuah gerbong berisi penuh makanan dan minuman, ada es jeruk, jus apukat, kue-kue kering, lumpia, seblak, dan banyak hidangan lainnya.

"Kami adalah bangsa yang menghargai jasa mereka yang telah berbakti. Salem telah merancang arsitektur Stasiun Karawang yang megah, jadi kami berutang kepadanya," kata Meneer Belanda itu. "Kelak, sifat kami ini tidak akan ditiru oleh bangsa kalian sendiri..."

Kalimat kedua itu entah apa maksudnya.

Mereka pun berangkat pada pukul dua dari Stasiun Karawang, menempuh perjalanan melalui Cirebon, Tegal, Semarang, terus hingga kereta mereka terhenti di sebuah stasiun kecil daerah Gemolong, Sragen. Kereta tertahan di sana disebabkan kabar pemberontakan di daerah Yogyakarta dan Solo.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved