Cerpen Sungging Raga

Arsitektur Kesunyian

JIKA Anda berkunjung ke Stasiun Karawang di Jawa Barat dan Stasiun Rambipuji di Jawa Timur, Anda akan mendapati bangunan keduanya sangat mirip.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Arsitektur Kesunyian 

Kalimat kedua itu entah apa maksudnya.

Mereka pun berangkat pada pukul dua dari Stasiun Karawang, menempuh perjalanan melalui Cirebon, Tegal, Semarang, terus hingga kereta mereka terhenti di sebuah stasiun kecil daerah Gemolong, Sragen. Kereta tertahan di sana disebabkan kabar pemberontakan di daerah Yogyakarta dan Solo.

"Kereta tidak bisa lewat, penduduk berjaga di rel untuk melempari setiap kereta yang melintas."

Di daerah Sragen itu, Salem dikeluarkan dari gerbong, dan menjadi tahanan rumah. Orang-orang setempat kemudian mengenang kisah persinggahannya dengan mengubah nama Stasiun Gemolong menjadi Stasiun Salem hingga hari ini.

Setelah pemberontakan reda, perjalanan pun dilanjutkan. Hingga akhirnya mereka tiba di daerah Jember, mendekati ujung timur pulau Jawa.

Para pengawal membawa Salem ke tengah hutan daerah Rambipuji, dan meninggalkannya begitu saja dalam keadaan terikat tangannya. Saat itu, daerah Rambipuji masih berupa perbukitan terjal yang ditumbuhi banyak jenis pepohonan. Rumah-rumah penduduk juga nyaris tak bisa ditemukan kecuali satu-dua saja, bersisian dengan padang rumput dan semak belukar.

Salem lalu ditemukan oleh seorang lelaki pencari kayu, yang kemudian menolongnya, memberinya makan serta tempat tinggal.

Begitulah Salem kemudian melanjutkan hidup sebagai penebang kayu. Ia tak tahu seberapa jauh tempat itu dari kampung halamannya. Begitu pun orang-orang setempat tak tahu di mana Karawang ketika Salem menyebutkan daerah asalnya.

Namun Salem masih selalu mengingat Nalea, setiap malam, ia terkadang melihat bintang sampai tertidur sambil memimpikan gadis itu.

Kehidupan Salem berjalan begitu wajar, tahun demi tahun berlalu, ia menjadi tua tapi tidak menikah, badannya kurus dan sakit-sakitan karena kesepian. Sampai tiga puluh tahun kemudian, tersiar kabar tentang pembukaan jalur kereta api dari Jember hingga Banyuwangi.

Salem segera menawarkan diri untuk menjadi arsiteknya. Ia berkata, "Aku akan membuat sebuah stasiun yang luas. Kelak, stasiun ini akan menjadi yang paling kokoh di Jawa Timur."

Maka diambillah batu-batu gunung, para pekerja antusias dengan dibangunnya rel dan stasiun untuk mengirim hasil perkebunan. Tidak ada yang menyadari, bahwa setelah tiga puluh tahun, Salem masih mengingat persis arsitektur stasiun Karawang.

Tepat pada tahun 1931, Stasiun Rambipuji selesai. Dan tak lama setelah itu, Salem pun meninggal, dalam keadaan masih menyimpan cintanya kepada Nalea. Begitulah riwayatnya berakhir di pengasingan. Sejak saat itu, jika Anda berkesempatan untuk berkunjung ke Stasiun Karawang di Jawa barat dan Rambipuji di Jawa Timur, Anda akan mendapati dua stasiun yang sama persis, seperti sepasang arsitektur kesunyian....

Lantas, bagaimana kabar Nalea van Mendieejt selanjutnya?

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved