Sorot

Sampah Styrofoam

CUITAN Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, di linimasa Twitter itu mengabarkan soal pelarangan pemakaian.....

Penulis: Machmud Mubarok | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
ISTIMEWA DOKUMENTASI PRIBADI FACEBOOK

Oleh Machmud Mubarok, Wartawan Tribun Jabar

CUITAN Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, di linimasa Twitter itu mengabarkan soal pelarangan pemakaian kemasan makanan dan minuman berbahan styrofoam per 1 November 2016.

Ini kabar baru di dunia persampahan di Kota Bandung. Pelarangan ini memang ditujukan untuk mengurangi sampah-sampah yang terbuat dari kardus busa itu.

Selama ini, "perang" terhadap sampah sudah sering kali dilontarkan pemerintah, termasuk Pemerintah Kota Bandung.

Sebut saja Program 3R (reduce, reuse, recycling), kantong keresek berbayar, dan biodigester.

Tapi semua aksi itu belum mampu menurunkan produksi sampah per harinya di Kota Bandung.

Bayangkan, sedikitnya 1.300 ton sampah per hari dihasilkan Kota Bandung.

Sampah plastik, styrofoam, organik, elektronik, dan sebagainya bercampur baur dalam konvoi truk-truk pengangkut sampah ke TPA Sarimukti.

Berapa yang bisa dikelola Pemkot Bandung? Paling besar hanya 65 persen saja dari 1.300 ton sampah atau sekitar 845 ton. Lalu ke mana larinya sisa sampah yang tidak bisa ditangani?

Persoalannya, dari sampah-sampah yang tidak terkelola itu terdapat pula sampah styrofoam.

Seperti halnya plastik, sampah jenis ini sulit terurai dan berbahaya. Proses pembuatan styrofoam menghadirkan zat benzana (benzene). Benzene inilah zat yang bisa menimbulkan banyak penyakit.

Sebut saja nama penyakit kanker payudara dan prostat, lalu anemia. Salah satu penyebabnya adalah zat benzene itu.

Kalau Anda mengalami kelelahan, detak jantung cepat, sulit tidur, badan jadi gemetaran, dan makin mudah gelisah, kadang-kadang diikuti hilang kesadaran, bahkan kematian, bisa jadi salah satu penyebabnya karena benzene.

Bagaimana benzene bisa masuk dalam tubuh kita? Perhatikan apa yang saat ini sering dipakai para pedagang jajanan di pinggir jalan sebagai bungkus atau wadah.

Sekelas seblak saja, saat ini dibungkus plastik lalu diwadahi styrofoam.
Ketika makanan atau minuman ada di dalam wadah styrofoam, bahan kimia yang terkandung dalam styrofoam akan berpindah ke makanan.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved