Cerpen Yudhi Herwibowo
Maaf_
AKHIRNYA, keinginan yang tak pernah sekali pun terlintas selama ini muncul juga di kepala Barun: sebuah permintaan maaf. Ini tentu suatu yang aneh.
Maka ayah Barun pun meludah dengan marah, "Meminta maaf? Dasar manusia tak tahu diri!"
BARUN sendiri merasakan permusuhan dua keluarga ini sejak masih sangat kanak-kanak. Doktrin-doktrin ayah selalu diterimanya setiap saat. Kelahiran Barun kebetulan berbarengan dengan kelahiran Marga sehingga jadilah ia mendapat pembanding yang pas untuk menjalani hidup. Marga akan selalu menjadi contoh buruk baginya. Ayah akan mudah sekali bicara, "Jangan mengompol! Itu seperti Si Marga!" atau "Jangan mencuri! Itu seperti si Marga!"
Untungnya, sepanjang sekolah, keduanya selalu berada di kelas yang berlainan. Awalnya Barun berpikir ini hanya kebetulan, tapi semakin dewasa ia tahu, pihak sekolah ternyata sengaja membuatnya demikian.
Barun tumbuh sebagai lelaki yang mirip dengan ayahnya, demikian juga Marga yang tumbuh begitu mirip ayahnya. Bila diamat-amati karakter keduanya hampir sama. Beberapa kali keduanya hampir terlibat perkelahian. Saat pertandingan bola, dan keduanya harus berhadap-hadapan, Barun selalu mencari cara untuk menjegal Marga. Dan ternyata, Marga juga melakukan hal yang sama.
Yang membuat Barun begitu jengkel, di lingkungan kawan-kawannya, Marga selalu menyebutnya: cucu si pembunuh. Ia melukiskan kakek dengan begitu mengerikan. Mendramatisasinya hingga di luar logika otak. Kisah saat kakeknya meninggal diceritakan layaknya film Hollywood. Kakek dikabarkan melakukan penyiksaan, memotong kemaluan kekeknya sambil bernyanyi-nyanyi gembira.
Selain itu, Marga juga menyebar cerita tentang ayah dengan begitu buruknya. Ia mengatakan ayah adalah seorang yang pengecut, bodoh, dan tak bisa apa-apa. Bahkan saat keluarga Marga sudah melapangkan diri untuk melupakan masa lalu, ayah Barun tetap tak punya keberanian untuk meminta maaf.
Barun hanya bisa memaki-maki. Ingin sekali ia melabrak Marga. Namun kawan-kawannya selalu bisa menahannya.
Kemarahan makin memuncak saat Barun merasakan belakangan ini ia merasa kehidupan sepertinya berpihak pada keluarga Marga. Ia mengamati, keluarga Marga sepertinya berhasil bekerja di tempat-tempat yang strategis. Salah satu sepupu Marga menjadi seorang penulis sehingga ia bisa menulis tentang kisah itu dalam sebuah buku, dan menyebarkannya di kampung kami. Tentu hanya berupa tulisan-tulisan busuk. Tapi Barun yakin, beberapa orang yang otaknya pas-pasan pasti akan dengan mudah percaya. Selain itu, salah seorang paman Marga berhasil menjadi dalang yang sukses, yang sering sekali memasukkan cerita tentang meninggalnya kakek di setiap pertunjukannya. Di situ—menurut laporan beberapa tetangga yang mendukung keluarganya—kakek dilukiskan begitu kejam. Bahkan melebihi kekejaman para Kurawa.
Asuuu! Asuuu! Barun hanya bisa mengepal marah.
TAPI seberapa lama kemarahan bisa dipendam? Seberapa lama kebencian bisa dirawat? Setelah ayah meninggal, Barun merasa semuanya mulai berubah sedikit demi sedikit. Ibu Barun, yang selama ini lebih banyak diam, mulai kerap mengingatkan hal-hal baik di kehidupan ini. Ia sepertinya berupaya keras terus meredam kemarahan Barun yang tak henti-hentinya hadir.
Awalnya Barun tak menyadarinya, karena begitu halusnya ibu mengingatkan. Sampai saat Barun menikah, ia ternyata mendapatkan istri yang karakternya mirip dengan ibunya. Perempuan itu lebih banyak diam daripada bicara. Bila Barun marah, ia akan membiarkannya tanpa berujar apa-apa. Namun malamnya, saat Barun akan tidur, ia akan memeluk dengan lembut sambil berbisik, "Lain kali, jangan semarah itu, Mas. Aku takut melihat wajah Mas saat marah...."
Ucapannya selalu berhasil menerpa kekerasan hati Barun. Tanpa ia sadari, perlahan-lahan benteng kebenciannya mulai terkikis sedikit demi sedikit. Walau tetap saja, saat ia mengingat ayah dan kakeknya, kemarahannya akan kembali meluap-luap.
Tapi waktu selalu meredakan semua yang bergejolak di dalam dada. Alam kemudian seperti mendukungnya. Satu per satu yang ada di sekeliling Barun mulai berubah. Keluarga Marga, yang selama ini berada di putaran roda teratas, kini perlahan mulai jatuh terjerembah. Sebuah mobil yang membawa belasan keluarga mereka jatuh ke dalam jurang. Tak ada yang selamat dari kejadian itu. Tentu, saat pertama kali mendengar berita itu, Barun diam-diam tersenyum gembira.
Beberapa hari kemudian, padepokan paman Marga yang dalang itu terbakar habis. Anak-anaknya—para sepupu Marga—terluka parah. Sehari berselang, mereka semua meninggal seluruhnya.
Sungguh, kesialan ini berlangsung berturut-turut. Herannya kali ini, Barun tak lagi bisa tersenyum gembira. Ia bahkan tak berkomentar apa-apa. Pikirannya seperti berbalik padanya: bagaimana bila kejadian itu menimpa pada keluargaku?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/maaf_20161001_202316.jpg)