Cerpen Risda Nur Widia

Berburu Tuhan

SELAMA seribu tahun ratusan pemburu itu melangkah; menyisiri setiap kota, negeri, hingga ceruk bumi paling terpencil.

Berburu Tuhan
Ilustrasi Berburu Tuhan 

Memang perburuan manusia ini mampu membuat gairah hidup mereka kembali bangkit. Anak-anak juga tidak segan mereka ajak untuk ikut menyembelih para budak buruan dan meminum darahnya. Suatu kehormatan memang bagi seorang pemburu dapat menenggak langsung darah buruannya. Mereka terus membeli budak buruan. Dari mana saja. Tidak segan mereka membeli budak tahanan perang di negara-negara konflik: Palestina, Syria, Bosnia, dan banyak budak perang lainnya. Mereka membunuh membabi buta.

Namun gairah yang meledak-ledak itu akhirnya tetap mencapai puncaknya. Lambat laun memburu manusia bukan menjadi suatu gairah lagi. Bahkan mereka merasa kalau dunia ini sudah habis menyerahkan dirinya sendiri untuk mereka buru. Mimpi buruk itu datang lagi. Kembali terpampang wajah-wajah pucat kehilangan semangat untuk terus hidup. Dan hilangnya gairah hidup ini menjadi bencana lain bagi mereka. Hidup di atas kekuasan memang selalu melahirkan kesunyian yang panjang.

"Bapa, rakyat kembali terserang bencana kehilang hasrat," kata seorang menteri. "Berburu manusia sudah menjadi membosankan. Rakyat mudah sakit-sakitan karena bosan."

Sang raja tertegun. Ia mendengus lesu. "Adakah solusi darimu?"

Perdana mentri itu menggeleng. Ada seraut air muka pasrah di wajahnya. Akan tetapi, di tengah segala keterimpitan tercetus ide di kepala menteri itu.

"Aku punya solusi, Bapa!" Kata menteri itu.

"Apa solusimu?"

"Sebagai seorang pemburu dengan darah terhoramat, ada satu hal yang wajib kita lakukan untuk menggenapkan kekuasaan ini. Kita belum pernah dapat menaklukkan Tuhan."

"Maksudmu?!" Raja tercengang.

"Kita memburu Tuhan," kata menteri itu.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved