Cerpen Risda Nur Widia

Berburu Tuhan

SELAMA seribu tahun ratusan pemburu itu melangkah; menyisiri setiap kota, negeri, hingga ceruk bumi paling terpencil.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Berburu Tuhan 

**

MEREKA pun mengumpulkan ratusan manusia dari penjuru bumi. Mereka membeli para budak, tahanan politik, serta para narapidana hukuman berat untuk menjadi pengganti hewan buruan. Mereka menganggap: Sebenarnya mereka sudah membuat hidup para budak yang dibeli itu menjadi berharga. Para budak, tahanan politik, juga narapidana hukuman berat dapat menuntaskan hidupnya sebagai manusia jauh lebih bermakna di bumi sebagai pengganti hewan buruan. Tidak hanya itu, kesempatan juga diberikan kepada para budak buruan. Para pemburu memberikan kebebasan bagi siapa saja yang dapat lolos dari perburuan.

Mereka menghormati para budak buruan dengan cara yang pantas. Mereka memberikan sebuah pesta perpisahan sebelum dibebaskan untuk diburu. Mereka memberikan sebuah kebahagian; sekaligus kematian secara bersamaan.

"Kalian kami bebaskan!" kata seorang pemburu. "Tapi kalian juga harus berhati-hati karena kalian adalah hewan-hewan buruan kami. Kalian akan kami bunuh. Kalian bisa saja mati di ujung tombak atau selosong peluru kami. Para pemburu juga tidak segan menyembelih kalian dan menjadikan santap malam bila tertangkap. Larilah sekencang mungkin. Larilah sejauh dapat kalian lakukan."

Para budak buruan itu lekas berlari sejauh mungkin. Budak buruan itu seolah sedang menghindar dari maut yang mengintai. Demikian juga dengan para pemburu, setelah melepaskan para budak buruan itu, mereka mulai memburu dengan brutal. Satu per satu, budak buruan tertangkap. Para budak itu mampus dikoyak tombak atau ditembak. Ada juga yang disembelih menjadi hidangan pesta. Pun para pemburu itu merasa kembali bergairah untuk melanjutkan hidup. Darah mereka kembali hangat karena perburuan manusia.

Memang perburuan manusia ini mampu membuat gairah hidup mereka kembali bangkit. Anak-anak juga tidak segan mereka ajak untuk ikut menyembelih para budak buruan dan meminum darahnya. Suatu kehormatan memang bagi seorang pemburu dapat menenggak langsung darah buruannya. Mereka terus membeli budak buruan. Dari mana saja. Tidak segan mereka membeli budak tahanan perang di negara-negara konflik: Palestina, Syria, Bosnia, dan banyak budak perang lainnya. Mereka membunuh membabi buta.

Namun gairah yang meledak-ledak itu akhirnya tetap mencapai puncaknya. Lambat laun memburu manusia bukan menjadi suatu gairah lagi. Bahkan mereka merasa kalau dunia ini sudah habis menyerahkan dirinya sendiri untuk mereka buru. Mimpi buruk itu datang lagi. Kembali terpampang wajah-wajah pucat kehilangan semangat untuk terus hidup. Dan hilangnya gairah hidup ini menjadi bencana lain bagi mereka. Hidup di atas kekuasan memang selalu melahirkan kesunyian yang panjang.

"Bapa, rakyat kembali terserang bencana kehilang hasrat," kata seorang menteri. "Berburu manusia sudah menjadi membosankan. Rakyat mudah sakit-sakitan karena bosan."

Sang raja tertegun. Ia mendengus lesu. "Adakah solusi darimu?"

Perdana mentri itu menggeleng. Ada seraut air muka pasrah di wajahnya. Akan tetapi, di tengah segala keterimpitan tercetus ide di kepala menteri itu.

"Aku punya solusi, Bapa!" Kata menteri itu.

"Apa solusimu?"

"Sebagai seorang pemburu dengan darah terhoramat, ada satu hal yang wajib kita lakukan untuk menggenapkan kekuasaan ini. Kita belum pernah dapat menaklukkan Tuhan."

"Maksudmu?!" Raja tercengang.

"Kita memburu Tuhan," kata menteri itu.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved