Cerpen Risda Nur Widia

Berburu Tuhan

SELAMA seribu tahun ratusan pemburu itu melangkah; menyisiri setiap kota, negeri, hingga ceruk bumi paling terpencil.

Berburu Tuhan
Ilustrasi Berburu Tuhan 

Selama satu bulan akhirnya mereka melakukan diskusi. Mereka berdebat segala hal mengenai bencana kehilangan gairah ini. Otak mereka—yang biasanya digunakan hanya untuk membunuh—diperas total untuk menemukan solusi permasalahan. Hingga akhirnya tercetus ide. Mereka memutuskan tidak lagi berburu binatang. Hewan-hewan yang telah mereka bantai itu dianggap kurang cerdik dan membuat perburuan menjadi membosankan. Mereka mengambil solusi untuk memburu: manusia.

"Manusia itu cerdik dan pandai."

"Pasti akan lebih menggairahkan berburu manusia."

"Betul! Manusia yang dibekali otak pasti memiliki ide-ide cermerlang. Apalagi bila maut sedang mengintainya. Mereka pasti sangat menantang untuk diburu."

Dewan Agung akhirnya menyetujui keputusan untuk berburu manusia itu. Darah mereka yang selama berbulan-bulan dingin karena tidak dapat berburu mendadak hangat kembali. Hasrat mereka menggebu; tidak sabar ingin melampiaskan nafsu sebagai seorang pemburu. Bahkan berburu manusia dianggap sebagai sebuah tantangan lain; adrenalin baru ketika melampiaskan hasrat untuk membunuh. Manusia yang dapat berpikir—tidak seperti hewan yang hanya menggunakan insting—pasti jauh lebih menarik ketika diburu.

**

MEREKA pun mengumpulkan ratusan manusia dari penjuru bumi. Mereka membeli para budak, tahanan politik, serta para narapidana hukuman berat untuk menjadi pengganti hewan buruan. Mereka menganggap: Sebenarnya mereka sudah membuat hidup para budak yang dibeli itu menjadi berharga. Para budak, tahanan politik, juga narapidana hukuman berat dapat menuntaskan hidupnya sebagai manusia jauh lebih bermakna di bumi sebagai pengganti hewan buruan. Tidak hanya itu, kesempatan juga diberikan kepada para budak buruan. Para pemburu memberikan kebebasan bagi siapa saja yang dapat lolos dari perburuan.

Mereka menghormati para budak buruan dengan cara yang pantas. Mereka memberikan sebuah pesta perpisahan sebelum dibebaskan untuk diburu. Mereka memberikan sebuah kebahagian; sekaligus kematian secara bersamaan.

"Kalian kami bebaskan!" kata seorang pemburu. "Tapi kalian juga harus berhati-hati karena kalian adalah hewan-hewan buruan kami. Kalian akan kami bunuh. Kalian bisa saja mati di ujung tombak atau selosong peluru kami. Para pemburu juga tidak segan menyembelih kalian dan menjadikan santap malam bila tertangkap. Larilah sekencang mungkin. Larilah sejauh dapat kalian lakukan."

Para budak buruan itu lekas berlari sejauh mungkin. Budak buruan itu seolah sedang menghindar dari maut yang mengintai. Demikian juga dengan para pemburu, setelah melepaskan para budak buruan itu, mereka mulai memburu dengan brutal. Satu per satu, budak buruan tertangkap. Para budak itu mampus dikoyak tombak atau ditembak. Ada juga yang disembelih menjadi hidangan pesta. Pun para pemburu itu merasa kembali bergairah untuk melanjutkan hidup. Darah mereka kembali hangat karena perburuan manusia.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved