Sorot
Pangan Harus Tersedia dan Terjangkau
Jika tak mampu menyediakan stok pangan yang cukup bagi 250 juta rakyat negeri ini, dikhawatirkan terjadi kekacauan ekonomi.
Penulis: Adityas Annas Azhari | Editor: Dedy Herdiana
Dalam segi multibudaya, multisuku atau ras, Indonesia mirip Amerika Serikat. Namun dalam hal distribusi pangan, Indonesia tidak efisien karena panjangnya rantai pasok komoditas pangan.
Sebagai contoh komoditas bawang merah. Harga bawang merah di konsumen bisa lebih mahal 400 persen dari pada di tingkat petani lantaran ada 8 titik distribusi dari petani hingga konsumen.
Mengatasi panjangnya rantai pasok ini kembali pemerintah turun tangan dengan membentuk tim khusus dari Kementerian Pertanian, Perdagangan, Perindustrian, serta Kementerian Koperasi dan UKM. Tim ini bertugas memotong rantai pasok bahan pangan pokok.
Masalah pangan memang soal hidup mati bangsa. Menjadi ironi jika impor menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan pangan.
"Soal memenuhi keperluan pangan harus mendapat prioritas utama, karena rakyat yang diharuskan ikut serta di dalam gerakan produksi sehebat-hebatnya itu, harus ada jaminan pangan, khususnya beras," kata Bung Karno, dalam Deklarasi Ekonomi 1960.
Entah bagaimana caranya, pemerintah harus memastikan bahwa pangan untuk rakyat ini harus cukup, dan harganya terjangkau. (*)
Naskah ini bisa Anda baca di Tribun Jabar edisi cetak, Kamis (16/6/2016). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/adityas-annas-azhari-baru-dibesarin_20150723_095310.jpg)