Cerpen Edi Warsidi

Tanpa Kata, Tanpa Suara

RERANTING, dedaunan, dan buah kopi mulai layu. Ratih duduk mencangkung di atas balok kayu bekas rumahnya yang tersisa.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Cerpen Tanpa Kata, Tanpa Suara 

Jiwa Jumanta menggelegak. Tetapi, tidak ada gunanya. Rombongan warga yang dipimpin pamong desa mengadu ke wakil rakyat di provinsi saja nihil: tanpa ada hasil.

Ratih tetap menelungkup merangkul tunggul batang kopi. Angin bukit semilir. Jumanta duduk berselonjor di sebelahnya. "Yang bisa kita lakukan hanya berbicara dengan hati kita sendiri, Rat," ia mendesah. "Kita semua merasa hancur. Beruntunglah kita yang belum menanggung anak-anak. Kita tidak bisa bayangkan bagaimana derita para tetangga kita dengan serombongan anak mereka," suara Jumanta makin lemah.

Tinggal Jumanta dan istrinya yang belum mengungsi dari Desa Mekarjati. Ratusan warga telah meninggalkan puing-puing rumah dan kebon kopi mereka. Ada warga yang mengangkut miliknya, tetapi sebagian besar meninggalkannya setelah lebih dahulu membakarnya.

"Semuanya menjadi abu. Mudah-mudahan abu itu menyemikan kehidupan baru," ucap Sujiwo sambil menengadah ke langit. Satu per satu mereka pun turun gunung tanpa tujuan jelas. Masing-masing dari mereka mencari tempat baru hidupnya.

Mereka pun tidak menghiraukan ajakan para polisi hutan untuk mendaftar menjadi transmigran. "Kami dahulu datang di sini juga transmigrasi! Berapa kali kami harus bertransmigrasi?" Beberapa tulisan protes dari arang menghiasi tembok Balai Desa Mekarjati.

Jumanta mengajak istrinya. Tidak ada respons. Hampir sebulan perempuan muda ini tidak berkata-kata, kecuali dengan hatinya sendiri. Seorang polisi hutan menghampiri. "Kenapa kalian tidak berangkat juga? Bukankah semua orang sudah hengkang dari sini?"

Jumanta memandangi lelaki berkulit kelam itu. Banyak hal mau ia katakan, tetapi tidak terucap. Ratih menoleh ke arah suara itu. Matanya nyalang, memandangi dari ujung rambut sampai ujung kaki petugas kehutanan itu.

"Kalian tidak bisa bertahan di sini. Rumah tinggal kalian sudah roboh. Persediaan pangan kalian sudah tidak tersisa. Lebih baik mengikuti para tetangga kalian, mencari tempat baru! Ataukah kalian suka ikut transmigrasi?" ucap polisi hutan itu lagi.

Reranting, dedaunan, dan buah kopi mulai menggering. Desa Mekarjati sudah mati. Suara azan dan pepujian menjelang salat wajib sudah tidak terdengar lagi. Wajah Ratih pucat pasi. Tubuhnya menggigil. Barangkali hanya keajaiban yang membuat ia masih bertahan hidup. Hampir sebulan perutnya tidak terisi makanan. Jumanta sudah putus asa membujuknya.

Yang bisa dilakukan hanya menunggu istri tercintanya. Tanpa kata, tanpa suara sama sekali. Setetes demi setes air dingin ia luncurkan ke bibir Ratih yang tertutup rapat. Lemah sekali Ratih. "Inikah bentuk perlawanan terhadap ketakadilan?" Jumanta membatin.

**

PULUHAN pekerja kehutanan lalu lalang memanggul bibit sonokeling, sengon, dan beberapa tanaman hutan lainnya. Mereka membuat lubang dan menanam pada garis-garis yang sudah ditentukan. Reboisasi, pikir Jumanta. Wilayah tempat tinggalnya dihutankan kembali.

Kesehatan Ratih sudah berangsur pulih. Tubuhnya mendegus. Jumanta duduk di dekatnya. "Daerah ini akan menjadi belantara. Sebaiknya kita segera pindah!" bisik Jumanta kepada istrinya. Tanpa kata, tanpa suara. "Persediaan makanan kita juga sudah habis. Sudah tiga hari kita hanya makan pucuk daun," suara Jumanta pelan. Ratih pun mengarca tanpa suara.

Kadang-kadang Jumanta ingin meninggalkan istrinya. "Tidak bisa, tidak bisa. Ratih adalah kehidupanku! Ialah belahan jiwaku!" hati Jumanta menolak. Dengan sabar, ia tetap menunggui istrinya. Tampaknya wanita itu ingin tetap melawan. Ya, melawan tidak harus dengan senjata atau demonstrasi! Bisa juga dengan tanpa kata, tanpa suara! Suami-istri itu tidak menyahut saat polisi hutan menegurnya kembali. "Kalian berdua akan dicabik-cabik hewan buas!" katanya. "Kalian mau makan apa di hutan ini?" ucap petugas lain menimpali. Suami-istri itu tetap mengarca. Tanpa kata, tanpa suara. Mereka hanya mau bicara dengan matahari, angin, rumputan, dan gemintang.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved