Cerpen Edi Warsidi

Tanpa Kata, Tanpa Suara

RERANTING, dedaunan, dan buah kopi mulai layu. Ratih duduk mencangkung di atas balok kayu bekas rumahnya yang tersisa.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Cerpen Tanpa Kata, Tanpa Suara 

RERANTING, dedaunan, dan buah kopi mulai layu. Ratih duduk mencangkung di atas balok kayu bekas rumahnya yang tersisa. Matanya nyalang jauh ke hamparan kebun kopinya yang beberapa hari lalu menjadi arena pesta gajah dan polisi hutan.

Tidak ada lagi yang bisa diharapkan. Biji kopi tumpuan hidupnya berserakan di sela-sela ranting dan daun. Langit di atas bebukitan Mekarjati, yang biasanya dihiasi arakan mendung, beberapa hari itu cerah. Panas matahari mempercepat proses pengeringan serakan biji kopi hijau.

"Ayolah kita tinggalkan tempat ini, Rat!" Jumanta memecah keheningan. Dipandanginya rambut sang istri yang hitam terurai kusut masai. Tidak biasa istrinya membiarkan mahkota kepalanya tergerai seperti itu. Sudah seminggu ini Ratih tidak peduli pada keadaan. Perempuan hitam manis ini tidak menyahuti ajakan suaminya.

Gajah. Polisi hutan. Suara gergaji mesin. Gemerincing parang dan sabit memenuhi mata, telinga, dan kepalanya. "Apa dosa kami, ya, Tuhan!" rintih Ratih.

Namun, siapa bisa menghalangi "pasukan" gajah dan polisi hutan. Siapa bisa melawan. "Kami bukan perambah hutan!" berkali-kali Ratih berteriak histeris. Mukanya pucat, tubuhnya menggigil. Refleks ia melompat, menubruk tunggul batang kopi di depannya. Menggugu tanpa air mata.

Jumanta termangu. Sudah seminggu ini istrinya selalu begitu. Pembabatan pohon kopi di belakang rumah mereka bagai pelolosan seluruh jaringan kehidupan suami-istri itu. Atas nama hutan, kelestarian, dan lingkungan. "Saudara-saudara harus meninggalkan hutan," terngiang suara polisi hutan.

"Tapi kami punya sertifikat tanah hak milik!" kata salah seorang warga kepada polisi hutan.

"Ilegal! Ya, sertifikat tanah itu palsu!" ujar polisi hutan.

Jumanta tersenyum, tanpa tahu apa yang disenyuminya. Ia ingat benar bagaimana orang tuanya dahulu sibuk mengurus sertifikat itu ke pemerintah daerah. Mungkinkah para pejabat yang meneken sertifikat itu juga palsu?

"Kita mesti menerima kenyataan, Rat," kata Jumanta kepada istrinya yang masih menelungkupi tunggul batang kopi. "Tidak ada yang bisa mengalahkan semangat kita. Kita bisa mencari kehidupan lain." Hati Jumanta terasa dibeset-beset.

"Kami mau pindah dari daerah yang Bapak sebut sebagai kawasan hutan ini. Tetapi, apakah seperti ini caranya?" tanya seorang warga.

"Ini sudah kebijakan. Kami hanya menjalankan tugas!" jawab polisi hutan tanpa melihat si penanya itu.

**

JUMANTA tidak lagi agresif lagi membujuk istrinya untuk hengkang dari kebun kopi yang telah luluh lantak dan rumah panggung mereka yang roboh diseruduk gajah. Ratih yang ramah dan supel itu tidak lagi mau diajak ngomong. Sehari-hari hanya duduk mencangkung di balok kayu bekas rumahnya.

Jiwa Jumanta menggelegak. Tetapi, tidak ada gunanya. Rombongan warga yang dipimpin pamong desa mengadu ke wakil rakyat di provinsi saja nihil: tanpa ada hasil.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved