Sorot

Game Kekerasan

GAME perkelahian atau perang menjadi favorit bagi penggemar game untuk menguji keahliannya.

Penulis: Januar Pribadi Hamel | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
TRIBUN JABAR
Januar P Hamel, Redaktur Pelaksana Harian Pagi Tribun Jabar 

TAK banyak yang mengingatkan bahwa game pun berperan dalam menyerbarkan paham.

Yang paling kentara adalah kekerasan. Adegan kekerasan kerap diusung oleh game-game baik itu di komputer, handphone, console atau lainnya.

Game perkelahian atau perang menjadi favorit bagi penggemar game untuk menguji keahliannya.

Uji keterampilan di ujung jari-jari ini tidak disadari bisa merasuk ke otak para pemakainya.

Game yang penuh kekerasan ini bisa jadi tidak apa-apa jika yang memainkannya adalah orang dewasa.

Tapi, apa jadinya kalau yang menggunakannya anak-anak yang masih belum bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk.

Di negara asalnya game-game ini diperuntukan bagi orang dewasa. Namun di Indonesia banyak penggemar game ini berasal dari kalangan anak-anak.

Mereka memainkannya memakai console playstation, Xbox, atau di komputer. Mereka bisa memperoleh game ini dari gerai penjual game.

Harganya sangat murah, satu game dihargai Rp 5.000.

Game yang beredar di sini memang bukan game orisinal. Penjual game menduplikasi game asli menjadi game bajakan kemudian menjualnya.

Sayangnya tak pernah ada "sensor" dari game-game pengusung kekerasan yang dimainkan oleh anak-anak.

Darah bercecerah hingga adegan persebutuhan lolos begitu saja.

Kadang juga game-game yang beredar di Indonesia banyak yang mempertontonkan adegan pencurian, perampokan, bahkan perkosaan.

Kemudahan untuk mendapatkan game-game tersebut seperti dibiarkan terjadi.

Bahkan oleh pedagang game itu sendiri. Mereka tak pernah melarang anak-anak untuk membeli game-game tersebut.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved