Teras
Jerat Pers
PERINGATAN akan dipusatkan di Mataram, Lombok.
Penulis: cep | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
SELASA besok, 9 Februari, rutin diperingati sebagai Hari Pers Nasional.
Peringatan akan dipusatkan di Mataram, Lombok. Kabarnya Presiden Jokowi akan hadir.
Sudah menjadi rutinitas, setiap Hari Pers selalu dihadiri oleh presiden. Hal ini menunjukkan bahwa pers sangat penting dan strategis di mata negara.
Tidak terlalu mengherankan karena secara historis pers memang mempunyai andil yang cukup besar dalam perjalanan bangsa ini sejak era kolonial hingga menuju kemerdekaannya.
Kehadiran pers bagi sebuah negara demokrasi adalah kemutlakan. Salah satu syarat negara demokrasi adalah pers yang dijamin dan dilindungi dari campur tangan kepentingan, terutama kepentingan kekuasaan.
(baca: VIDEO: Di Indonesia Ada Dede si Manusia Akar, Di Bangladesh Ada Abul si Manusia Pohon)
Sebuah pepatah mengatakan, bila Anda bercita-cita jadi diktator, langkah pertama yang harus dimatikan adalah pers.
Itulah yang dilakukan pemerintah kolonial saat mencengkeram Hindia Belanda. Penduduk pribumi yang kritis dan bersuara lantang, termasuk media, dibungkam.
Bangsa ini di era kolonial mempunyai tokoh yang mempunyai kesadaran pentingnya mengemukakan pendapat melalui media publik. Dialah Tirto Adisuryo.
Untuk memerdekakan bangsanya, Tirto sadar, tidak bisa dengan mengangkat senjata. Selain persenjataan yang canggih di pihak kolonial, bangsa kita mudah diadu domba sehingga sulit bersatu. Hal itu dikarenakan mentalnya masih terbelakang.
Belum ada kesadaran pentingnya bersatu. Maka untuk menyalakan kesadaran, tak ada jalan lain kecuali dengan melek huruf dan melek media.
Setelah ia berpengalaman bekerja di media milik koloniah, Tirto mencari orang pribumi yang sanggup memberi modal untuk membuat koran sendiri.
Bertemulah dia dengan Bupati Cianjur dan ia pun mendirikan koran Soenda Berita. Koran ini tercatat dalam sejarah sebagai koran pertama di republik ini.
Setelah dirintis Tirto, bermunculanlah orang-orang pribumi yang memiliki kesadaran sama: menyuarakan pendapat untuk melawan kolonial.
Soekarno adalah di antara generasi yang vokal baik dalam orasi maupun dalam tulisannya di media. Ia termasuk yang memanfaatkan media untuk mencapai cita-cita kemerdekaan bangsa ini. Tulisan-tulisannya masih bisa kita baca dalam buku Mencapai Cita-Cita Kemerdekaan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/cecep-burdansyah-pemimpin-redaksi-tribun-jabar_20160208_092507.jpg)