Sorot

Instan

CARA instan pun terjadi di dunia olahraga.

Penulis: Oktora Veriawan | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
dok. pribadi / facebook
Oktora Veriawan, Wartawan Tribun. 

SERBA instan, itulah yang sering kita alami di zaman modern ini. Dari sandang, pangan, papan, semuanya serba instan.

Sesuatu yang instan memang ada plus minusnya, tapi untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai, cara instan dianggap paling jitu.

Cara instan pun terjadi di dunia olahraga, sepak bola misalnya. Banyak klub yang ingin juara
dengan cara instan.

Contohnya, Manchester City dan Real Madrid, yang jor-joran membeli pemain berkualitas berharga mahal.

Sejak awal tahun 2000–an, Real Madrid menggelontorkan dana cukup fantastis untuk merekrut para pemain bintang.

Mulai dari Zidane, Ronaldo Luiz, Luis Figo, David Beckham, hingga Cristiano Ronaldo. Teranyar, klub Spanyol ini menyiapkan dana Rp 2,9 triliun untuk merekrut Neymar.

(baca: VIDEO: Di Indonesia Ada Dede si Manusia Akar, Di Bangladesh Ada Abul si Manusia Pohon)

Manchester City pun mengikuti jejak Real Madrid yang ingin juara dengan cara instan. Di tahun 2010, mereka mentransformasi dari tim medioker menjadi tim elite di jazirah Britania Raya setelah klub ini dibeli oleh taipan asal Timur Tengah.

Pemain bintang mereka beli, dari Yaya Toure, Kun Aguero, Samir Nasri, David Silva hingga Raheem Sterling. Hasilnya mereka berhasil dua kali juara Liga Inggris dalam kurun waktu empat tahun.

Lalu apakah Persib seperti kedua klub itu? Saya sempat berpikir begitu. Maung Bandung jor- joran membeli pemain bintang.

Mulai era kepelatihan Juan Paez, Arcan Iurie, Jaya Hartono, hingga Djadjang Nurdjaman, semuanya mirip City dan El Real, sama-sama mengandalkan pembelian pemain bintang. Lalu ke mana pemain muda hasil binaan Diklat Persib?

Memang ada pemain muda yang sempat dimainkan di tim senior. Tapi itu pun karena regulasi PT Liga Indonesia yang mengharuskan setiap klub LSI mencantumkan 3 pemain U-21 di skuat senior.

Pemain muda hasil binaan (Diklat Persib dan Persib U-21) akhirnya hanya pemanis duduk di bangku cadangan karena ketakutan pelatih menurunkan pemain muda.

Sekali lagi, itu dulu. Sekarang, ‘berkat jasa’ regulator turnamen Piala Jenderal Sudirman, yang mewajibkan setiap klub peserta memainkan pemain di bawah U-21 sebagai starter di setiap laga, membuat para pelatih ‘terpaksa’ menurunkan pemain mudanya.

Dari ‘terpaksa’ itu pula akhirnya pelatih sadar bahwa talenta muda hasil binaan klub sendiri memiliki kualitas yang mumpuni.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved