Teras

Umpan GBHN

IA berhenti dari tugasnya sebagai presdien bukan karena gagal terpilih, tapi karena jatuh dari kekuasaannya.

Umpan GBHN
dok. pribadi / facebook
Cecep Burdansyah, Pemimpin Redaksi Tribun Jabar. 

DI dalam arena politik, warga ibarat ikan yang bertebaran di luasnya kolam yang suka berebut bila menemukan makanan dan tidak tahu kalau makanan itu adalah umpan yang dilempar pemancing.

Pada zaman Orde Baru, mendekati habis masa jabatannya, Presiden Soeharto sering menyatakan bahwa ia sudah saatnya tidak mencalonkan diri lagi jadi presiden.

Ucapan ini langsung disanggut para loyalisnya dengan mengatakan tenaga dan pikiran Pak Harto masih dibutuhkan.

Biasanya kemudian disusul dengan kebulatan tekad dari ormas-ormas dan tokoh lainnya. Umpan Pak Harto biasanya sukses dan ia secara aklamasi tak mendapat hambatan untuk kembali melenggang ke kursi kekuasaannya.

Ia berhenti dari tugasnya sebagai presdien bukan karena gagal terpilih, tapi karena jatuh dari kekuasaannya.

Pada zaman Soesilo Bambang Yudhoyono menjelang habis masa jabatan keduanya, kader Partai Demokrat di DPR yang juga loyalisnya mengatakan, kalau Pak SBY mendapat kesempatan tiga kali dalam pemilihan, pasti rakyat akan memilihnya dan Pak SBY akan menang.

(baca: VIDEO: Di Indonesia Ada Dede si Manusia Akar, Di Bangladesh Ada Abul si Manusia Pohon)

Kita tahu ke mana arah pernyataan tersebut. Amandemen pasal pemilihan presiden yang tadinya dua kali jadi tiga kali tentu akan membuka peluang SBY untuk kembali maju.

Sayang umpan ini tak satu pun ada yang menanggapi alias disambut dingin. Entah kalau SBY yang langsung melempar umpannya mungkin ada ikan-ikan yang menyambutnya.

Kali ini Ketua Umum PDIP Megawati melempar umpan perkara Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN).

Halaman
123
Penulis: cep
Editor: Dicky Fadiar Djuhud
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved