Sorot

Gafatar dan Kemiskinan

Eks pengikut Gafatar adalah manusia seperti kita yang bisa saja tersesat jalannya.

Penulis: Kisdiantoro | Editor: Dedy Herdiana
dok. pribadi / facebook
Kisdiantoro, Wartawan Tribun. 

KEMARIN ribuan anggota Gerakan Fajar Nusantara atau Gafatar dipulangkan dari Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, setelah sebelumnya dikarantina untuk mengembalikan orientasi keagamaannya ke doktrin yang benar.

Dari sekian banyak anggota Gafatar, berdasarkan pendataan sementara, 439 orang berasal dari Jawa Barat. Mereka berasal dari Tasikmalaya, Depok, Bogor, Cirebon, Banten, Bekasi, Kuningan, Garut, dan Bandung.

Bagaimana reaksi warga setempat menyambut kedatangan mereka? Diberitakan Tribun, Jumat (22/1), pihak Kodam III/Siliwangi siap membantu menjemput dan memberikan pembinaan kepada eks anggota Gafatar.

Alasannya adalah soal kemanusian. Tentu itu yang kita harapkan dan akan ada banyak pihak yang bersedia memberikan perlindungan untuk keberlangsungan kehidupan mereka.

Bukan saja soal pembinaan keyakinannya tentang paham yang oleh pemerintah dilarang kerena ditemukan banyak penyimpangan dan ditengarai memiliki relasi dengan organisasi pendahulunya, Milata Abraham dan Al-Qaeda Al-Islamiyah Indonesia, tetapi juga kesejahteraannya yang berkaitan dengan sandang, pangan, papan, pekerjaan, dan pendidikan.

Bukan sebaliknya, terus menerus menebar teror dan cerita menakutkan bahwa mereka wajib diawasi setiap saat karena pengaruhnya masih membahayakan bak ular berbisa yang tetap bisa menggigit sekali pun sudah dipukul kepalanya.

Jika itu yang ditonjolkan, maka warga setempat akan terus membuat stigma bahwa eks pengikut Gafatar adalah sesat dan tak terampuni, seperti halnya orang-orang yang ikut-ikutan di organisasi Partai Komunis Indonesia (PKI) yang hingga kini masih berlabel sebagai eks pengikut organisasi terlarang (OT).

Eks pengikut Gafatar adalah manusia seperti kita yang bisa saja tersesat jalannya. Bukan semata soal gelapnya pemahaman agama, tetapi ada alasan lain mengapa mereka bergabung dengan Gafatar.

Ditelisik dari latar belakang kehidupan para pengikutnya, bisa jadi masalah kemiskinan dan kesejahteraan adalah alasannya.

Ini pula yang diusung Gafatar. Mereka melakukan banyak kegiatan sosial, pemberian bantuan, pengobatan massal, dan sejumlah kegiatan lainnya yang erat hubungannya dengan upaya terbebas dari kemiskinan.

Di dalam situs Gafatar.org pun ditemukan visi itu, yakni terwujudnya tata kehidupan masyarakat, bangsa dan negara yang damai sejahtera, beradab, berkeadilan dan bermartabat di bawah naungan Tuhan Yang Maha Esa melalui penyatuan nilai-nilai luhur bangsa, peningkatan kualitas ilmu dan intelektualitas, serta pemahaman dan pengamalan nilai-nilai universal agar menjadi rahmat bagi semesta alam.

Mendapat 'jalan' menjadi sejahtera siapa yang tak tertarik? Bisa jadi Anda yang kebetulan terbelit kesulitan ekonomu pun akan ikut.

Angka kemiskinan di Jawa Barat pada 2015 tinggi, mencapai 4,5 juta orang pada Septermber 2015 (data BPS Jabar).

Angka yang perlu diwaspadai. Dan umumnya, orang-orang miskin tak memiliki kesempatan yang baik untuk mendapatkan pendidikan. Mereka menjalani hidup dalam kekurangan dan mewariskan kebodohan.

Dua masalah inilah yang disasar oleh kelompok-kelompok yang tak bertanggung jawab dengan meniupkan mimpi 'hijrah' yang indah.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved