Sorot
Bandara dan Akses Kereta Api
Hal ini yang harus menjadi perhatian utama pemerintah Jabar dalam membangun BIJB.
Penulis: Adityas Annas Azhari | Editor: Dedy Herdiana
SAAT ini adalah era pergerakan manusia yang masif antarkota, antarprovinsi, antarnegara, bahkan antarbenua.
Ingatlah bahwa penduduk dunia bukanlah berkurang, namun bertambah, itu artinya kebutuhan manusia untuk bergerak juga tumbuh pesat.
Seperti ditulis di harian ini bahwa Pemerintah Provinsi Jabar akan membangun Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati, Majalengka, hal itu harus dipandang positif.
Ini artinya tidak perlu mempermasalahkan apakah Bandara Husein Sastranegara Bandung masih bisa dipakai atau tidak, karena tren kota-kota metropolitan memiliki lebih dari satu bandara.
Lihat saja Bandara Internasional Soekarno Hatta di Tangerang. Bandara ini semula menggantikan bandara Kemayoran dan Halim Perdanakusuma di Jakarta.
Namun seiring perjalanan waktu, ternyata frekuensi penerbangan Bandara Soekarno Hatta, makin padat. Untuk itu Halim Perdanakusuma pun diaktifkan lagi untuk penerbangan komersial terjadwal.
Bukan itu saja, kini Bandara Pondok Cabe yang semula hanya melayani penerbangan charter atau instansi tertentu, kini juga akan dioperasikan sebagai bandara komersial di Jakarta.
Negara-negara lain dengan pertumbuhan ekonomi tinggi pun memiliki lebih dari satu bandara. Tokyo memiliki dua bandara yaitu Narita dan Haneda. Kuala Lumpur memiliki tiga bandara yaitu KLIA1, KLIA2, dan bandara lama, Subang. Bangkok memiliki Bandara Swarnabhumi dan Don Muang. Singapura yang luas negaranya terbatas, memang hanya memiliki satu bandara komersial, yaitu Changi. Namun kapasitas dan fasilitas di Changi terus ditingkatkan dan diperluas. Changi bahkan menjadi bandara terbaik di dunia.
Dalam hal pembangunan bandara, yang terpenting adalah fasilitas di bandara dan akses menuju bandara tersebut.
Saat ini bandara cenderung dibangun jauh dari pusat kota, karena keterbatasan lahan di kota metropolitan.
Namun bandara-bandara di negara yang pertumbuhan ekonominya tinggi tersebut mudah diakses, sehingga pergerakan penumpang atau barang makin efektif dan efisien.
Hal ini yang harus menjadi perhatian utama pemerintah Jabar dalam membangun BIJB.
Bandara Kualanamu di Sumatra Utara adalah contoh. Saat ini Kualanamu merupakan bandara termodern di Indonesia dengan rating bintang 4, mengalahkan Soekarno Hatta yang berbintang tiga. Hal ini tentu karena fasilitas dan kemudahan akses ke bandara itu.
Nah, salah satu akses terpenting menuju bandara adalah kereta api. Mengapa demikian? Karena mengandalkan akses transportasi jalan raya bakal menimbulkan ketidakpastian.
Siapa yang menjamin tidak ada kecelakaan lalu lintas atau kemacetan, meskipun itu di jalan tol. Sebaliknya jalur kereta api (rel) sudah dipastikan harus bersih, bahkan steril dari gangguan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/adityas-annas-azhari-baru-dibesarin_20150723_095310.jpg)