Sorot

Melawan Teror

Karena sangat jauh berbeda antara mereka yang berani dengan warga yang tidak peduli.

Penulis: Machmud Mubarok | Editor: Dedy Herdiana
TRIBUN JABAR
Machmud Mubarok, Wartawan Tribun. 

TEROR bom dan penembakan di kawasan MH Thamrin, Jakarta, pertengahan pekan kemarin, jelas tak memberi efek atau dampak terhadap Indonesia.

Memang jatuh korban, baik meninggal maupun luka-luka, tapi tidak membuat Indonesia terpuruk.

Kunjungan wisatawan tak menyurut, perkantoran dan perbankan tak mengerem aktivitasnya.

Malah yang terjadi, di media sosial, tanda pagar (hashtag) "Kami Tidak Takut" atau "Indonesia Berani", dipasang secara masif, untuk menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia tak gentar dengan aksi teror kaum teroris radikal mana pun.

Setidaknya, itulah cara melawan yang cukup efektif dan mudah dilakukan terhadap segala bentuk teror terhadap masyarakat, dengan menunjukkan bahwa tidak ada efek apa pun dari teror itu.

Itu tentu terkait dengan tujuan teror itu sendiri, yaitu menciptakan keresahan, ketakutan, dan teror di tengah masyarakat.

Apabila masyarakat merasa ketakutan, maka si peneror akan jemawa dan besar cuping hidungnya, karena tujuan dia tercapai.

Berbeda apabila masyarakat bersikap biasa saja, malah menunjukkan keberanian untuk melawan, jelas sudah aksi teror itu gagal total.

Namun perlu dicermati pula, apakah tidak terlihat atau tidak adanya dampak dari teror itu karena masyarakat memang benar-benar berani atau tidak peduli?

Karena sangat jauh berbeda antara mereka yang berani dengan warga yang tidak peduli.

Warga yang berani merupakan warga yang peduli dengan keadaan lingkungan, sensitif dengan isu-isu di sekitar dia, dan mau berbagi dengan sekelilingnya.

Sementara warga yang tidak peduli adalah mereka yang tak mau ribet berurusan secara sosial dengan orang lain, tak mau capai-capai menyisihkan waktu untuk masyarakat, tak rela jam-jam rileksnya diganggu, bahkan cuek dengan bom yang meledak di depannya selagi itu tidak menimpa dirinya atau mengganggu kepentingannya.

Yang tidak peduli ini yang berbahaya dalam upaya gerakan semesta melawan teror. Karena dia tidak peduli dengan keadaan sekitar, tidak kenal dengan tetangga baru, bukan urusannya melaporkan hal-hal mencurigakan yang dilakukan orang tak dikenal di sekitar lingkungan rumahnya.

Lingkungan semacam ini yang paling diminati para teroris dan kelompok radikal. Mereka merasa nyaman dan aman, karena tetangga kiri kanan tidak saling kenal dan tak peduli.

Warga yang tidak peduli biasanya baru ngeh apabila sudah ada ledakan bom, penembakan, perampokan, yang ternyata dilakukan oleh tetangganya itu.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved