Teras

Afif. . . .

ANAK muda itu sepertinya tidak punya rasa gentar.

Penulis: cep | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
DOKUMENTASI TRIBUN JABAR
Cecep Burdansyah. 

Titik inilah yang mereka ganggu. Negara dibuat chaos dan warga panik karena merasa terancam. Kita pernah menyaksikan bagaimana Imam Samudra begitu percaya diri dan tak menunjukkan penyesalan.

Jokowi, sebagai presiden, tahu betul apa yang dibidik oleh kelompok teroris di Thamrin Kamis kemarin. Karena itu ia langsung menyatakan, kita tidak takut oleh aksi brutal pelaku teror.

(lihat: VIDEO: Masya Allah! Sebuah Adegan yang Sangat langka, Kelahiran Bayi Kuda Laut)

Pernyatan Presiden cukup untuk membuat kita tenang dan solid menghadapi ancaman teror, juga cukup sebagai jawaban kepada kelompok terror bahwa aksi mereka akan dihadapi secara langsung dan tuntas.

Tapi kita diganggu oleh pertanyaan, mengapa para pelaku terror Thamrin semuana anakmuda? Mengapa Afif dan kawannya begitu berani melakukan aksi melawan negara?

Bukankah mereka adalah warga Negara dan harapan masa depan Negara ini?

Apa yang membuat mereka berpaling masuk kelompok radikal sampai jauh-jauh dijugjug menyebrang ke negara lain hanya untuk ikut latihan dalam rangka menciptakan teror di Negara sendiri?

Memang tidak mudah untuk menjawabnya. Kita kecewa oleh aksi anak-anak muda itu. Tapi mungkin ada kekecewaan yang mendalam pada mereka yang tidak dikelola dengan baik.

Mental manusia dalam menghadapi persoalan dan tekanan hidup memang tidak sama, ada yang tahan banting, yang gigih, tapi tak sedikit yang rapuh. Yang paling mudah membuat manusia rapuh adalah perasaan sosial.

Ketika ia merasa terpinggirkan, terutama dari segi kesempatan pendidikan dan kesempatan pekerjaan, lalu ada tawaran jalan lain yang membentang di hadapannya meski dari sisi akal sehat salah, ia mudah berpaling.

(lihat: Terungkap! Es Kopi Vietnam yang Diminum Mirna Mengandung Racun Sianida)

Di sinilah peran pengelola Negara dituntut lebih arif untuk merenungkan kebersamaan hidup bernegara. Indonesia bukanlah negara yang lahir dari kontrak sosial seperti halnya Perancis, yang berangkat dari konflik antara tuan tanah dan kaum petani dan pemodal.

Indonesia lahir dari sejarah panjang melawan kolonial, dan saat proklamasi kemerdekaan pun nyaris digagalkan oleh kolonial. Tapi karena kebersamaan dan dialog antara kaum tua dan muda, kita berhasil merebut kemerdekaan dan lahirlah Negara berdasarkan perasaan senasib.

Ketika dalam perjalanan kemerdekaannya Negara membuat jurang sosial yang menganga, perasaan senasib itu menjadi terluka dan lahirlah anak-anak muda yang rapuh seperti Afif, lalu begitu mudah berpaling, mengambil jalan hidup yang tak bisa dibenarkan dari kacamata apa pun.

Kita telah terluka oleh kebrutalan mereka. Tapi sejauh mana kita bisa memahami luka orang- orang seperti Afif yang secara sosial mungkin telah terpinggirkan?

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved