Sorot

Memuliakan Ibu

PENETAPAN tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938.

Penulis: Adityas Annas Azhari | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
dok. pribadi / facebook

Oleh Adityas Annas Azhari
Wartawan Tribun

SEMUA bangsa di dunia saat ini memiliki hari khusus untuk memuliakan ibu.

Bangsa-bangsa di dunia sadar bahwa tanpa perempuan yang kemudian menjadi ibu, maka suatu bangsa tak dapat berdiri tegak.

Di Indonesia, Hari Ibu diawali dari berkumpulnya para aktivis perempuan yang antikolonialisme dari 12 kota di Jawa dan Sumatra.

Dalam cengkeraman penjajah Belanda, mereka mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta.

Hasil dari kongres tersebut salah satunya membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Penetapan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938.

Presiden Soekarno kemudian menetapkan tanggal 22 Desember ini sebagai Hari Ibu melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959.

Dalam Islam yang merupakan agama mayoritas bangsa ini, ibu adalah sosok yang wajib dimuliakan dalam setiap gerak kehidupan seorang anak manusia.

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memerintahkan manusia berbakti kepada ibunya, melarang mendurhakainya, dan mengaitkan rida-Nya dengan rida ibu.

Rasulullah Saw saat didatangi sahabat dengan jelas menegaskan bahwa ibu harus dimuliakan.

"Ya Rasulullah, siapakah yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku? tanya sahabat. Rasulullah menjawab, ibumu, ibumu, ibumu, kemudian ayahmu. Kemudian, yang lebih dekat kepadamu dan yang lebih dekat kepadamu." (HR Bukhari Muslim)

Dalam hal ini, keutamaan ibu atas ayah karena dua hal. Pertama, ibu menanggung beban mengandung anak, melahirkan, menyusui, mengurus, mengasuh, dan mendidiknya. Kedua, fitrah kasih sayang, kelembutan, cinta, dan perhatian ibu lebih besar daripada ayah.

Sastrawan besar Prancis Victor Hugo (1802-1885) juga menuliskan kemuliaan seorang ibu. Ia mengatakan, seandainya seluruh semesta menjadi kecil, maka ibu akan tetap besar.

Namun kita harus sadari, kian tingginya kemajuan teknologi, semakin rumitnya ekonomi, dan semakin kompleksnya urusan bernegara, membuat perhatian pada kaum ibu kerap terabaikan.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved