Cerpen Yus R Ismail

Cerpen Dewi

SAYA berangkat berdua bersama Dewi ke kota kabupaten. Maksudnya mau mengikuti Pelatihan Kurikulum Bagi Guru Sasaran selama lima hari.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi cerpen Dewi 

Saya pun pergi ke kampung perajin kaligrafi. Sebuah perjalanan yang tidak mudah. Melalui tepi hutan, menyeberang sungai, menuruni jurang. Pantas saja si ibu penjual oleh-oleh itu menyarankan agar saya membawa nasi dan ikan sebagai bekal. Tapi saya menolaknya. Pikiran dan perasaan saya terlalu penuh oleh keinginan segera bertemu Dewi.

Di sebuah kampung saya terpesona dengan seorang wanita yang sedang menjemur kertas-kertas daur ulang. Rambutnya yang sepunggung terurai indah. Tatapan matanya sangat teduh. Senyumnya bersahabat. Itu semua milik Dewi. Dewi yang punya kelebihan seperti itu.

"Maaf, numpang tanya," kata saya. "Apa tahu dengan yang namanya Dewi?"

"Dewi yang rambutnya sepunggung dan selalu terurai indah?"

"Ya, betul sekali."

"Dewi yang matanya begitu indah dihiasi dengan bulu-bulu mata yang lentik?"

"Ya, betul."

"Dewi yang selalu tersenyum bersahabat?"

"Ya."

"Kemarin dia memang ke sini. Dia memesan hiasan dinding kaligrafi. Tapi setelah selesai, dia pergi dan lupa membawa hiasan pesanannya."

Saya memandang hiasan pesanannya. Pigura memanjang itu pinggirnya diukir indah. Warna emas peliturnya memantulkan cahaya gemerlap. Dan huruf kaligrafinya tertulis indah: "Man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu." Barang siapa mengenal dirinya, ia akan mengenal tuhannya.

Waktu itu juga saya berpamitan. Perhiasan dinding bertuliskan huruf kaligrafi itu saya bawa. Saya harus secepatnya mencari Dewi. Dia akan senang bila tahu saya membawa pesanannya yang tertinggal. Tapi perjalanan pulang tidaklah mudah. Melalui jalan setapak di pinggir hutan, menyusuri pinggir sungai, menuruni jurang, jalan kampung berbatu yang seperti tanpa ujung. Saya baru ingat sudah beberapa hari selama mencari Dewi saya tidak makan. Di pinggir sebuah desa saya terjatuh. Beberapa saat saya tidak ingat apa-apa.

Ketika siuman sudah banyak orang mengelilingi saya. Sayup-sayup saya mendengar seseorang berkata.

"Ini ada KTP-nya. Asalnya dari luar kota. Namanya Dewi...."

***

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved