Cerpen Yus R Ismail
Cerpen Dewi
SAYA berangkat berdua bersama Dewi ke kota kabupaten. Maksudnya mau mengikuti Pelatihan Kurikulum Bagi Guru Sasaran selama lima hari.
"Bilang saja Dewi pergi bersama pacarnya."
Saya terkejut. Saya jadi teringat pacar Dewi. Dewa namanya. Seorang lelaki yang tampan dan bertanggung jawab. Dia sangat mencintai Dewi. Seperti juga Dewi sangat mencintainya. Mereka merencanakan menikah sebentar lagi. Bagaimana jadinya percintaan mereka bila saya pulang tanpa Dewi?
"Takut, ya?" tanya si ibu lagi.
"Oh, saya bukan takut. Tapi saya bertanggung jawab. Saya harus menemukan Dewi."
"Tanggung jawab kepada orang lain? Orang tuanya Dewi, pacarnya, muridnya? Apabila tidak ada mereka, kamu tidak mencari Dewi?"
Saya termenung. Ya, harus diakui, saya tidak akan tenang bila saya tidak menemukan Dewi. Dewi adalah teman saya sejak kecil. Kami tidak pernah berantem. Bila Dewi mempunyai makanan, katanya saya adalah yang paling diingatnya. Saya berani bilang, barang apa pun milik saya, setengahnya adalah milik Dewi.
Dewi itu pencinta lingkungan. Halaman rumahnya, depan dan belakang, penuh dengan bebungaan dan bibit tetumbuhan. Dewi akan menanam bibit tetumbuhan itu di tanah kosong mana pun. Saya adalah sahabatnya yang dengan senang hati menemaninya menanam bibit tetumbuhan itu di pinggir jalan, bantaran sungai, atau pinggir hutan yang gersang. Harus diakui, saya bukan hanya mengantar, saya pun memperoleh kenikmatan yang indah setiap menanam bibit tetumbuhan itu. Tapi terus terang juga, saya tidak akan bisa melakukannya tanpa Dewi.
Dewi juga pencinta binatang. Mata Dewi akan berkaca-kaca bila melihat kucing liar yang kurus dan tubuhnya penuh luka atau anjing liar yang terduduk lemas kehausan dan kelaparan. Saya bisa membersihkan luka binatang dan mengeringkannya berkat Dewi. Jadi, harus diakui, saya tidak bisa melakukannya tanpa Dewi.
Bagi saya, Dewi adalah sosok yang sangat humanis. Sekali waktu Dewi pernah merelakan honornya demi membahagiakan seorang janda tua yang menangis karena kue serabi dagangannya tumpah. Waktu lain saya melihat air matanya menetes saat suatu malam melihat tunawisma tidur di emperan toko berselimut karung. Saya selalu kebagian harunya saat Dewi seperti itu.
Dewi adalah sosok yang bangga dengan hidup yang bersih. Sekali waktu ada orang yang mendatangi Dewi setelah ujian PNS. "Dewi itu sebenarnya lulus, hasil ujiannya termasuk ke dalam kuota yang diterima," kata orang itu. "Tapi kami tidak menjamin bila ada permainan di belakang. Jadi, saya beritahukan, melalui jalan belakang, karena saya kasihan kepada Dewi, pertahankan posisinya dengan uang pengaturan. Hanya sekadarnya, untuk uang lelah yang mengatur. Dua puluh juta saja cukup, dibayarkan nanti setelah ada pengumuman. Dewi sendiri kan tahu, saat ini tarif jalan belakang untuk jadi pns sampai seratus juta rupiah." Tapi Dewi tidak pernah menanggapi penawaran seperti itu. Dia lebih memilih mengajar dengan uang honor dua ratus ribu rupiah saja. Sikap itulah yang membuat saya bangga kepadanya.
"Harus diakui, Dewi adalah segalanya bagi saya," kata saya kepada ibu pedagang oleh-oleh itu. "Karenanya saya ikut ke sini. Karena saya tidak yakin Ibu tidak tahu apa-apa tentang Dewi. Bicaralah terus terang, Bu, ke mana Dewi pergi?"
Si ibu pedagang oleh-oleh itu balik terkejut. Beberapa jenak dia memandang saya.
"Ya, Dewi memang pernah ke sini. Tapi tidak lama. Hanya mampir. Selanjutnya dia pergi lagi." Si Ibu itu menarik napas panjang, seolah-olah berat mengatakannya. "Dia ingin mencari sesuatu yang selama ini dicarinya."
"Apa yang dicarinya?" tanya saya cepat.
"Sebuah hiasan dinding. Hiasan dengan huruf kaligrafi."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/dewi_20151219_233605.jpg)