Sorot

Menabur Harapan

SELALU ada dua kemungkinan besar yang menjadi ending satu pertarungan: kalah dan menang.

Penulis: Giri | Editor: Dedy Herdiana
DOKUMENTASI/TRIBUN JABAR
Sugiri UA, Wartawan Tribun. 

Mereka lupa satu suara yang terakumulasi dan memenangkannya merupakan hasil yang harus dipertanggungjawabkan. Bukan hanya di mata pemilih, tapi juga Tuhan.

Untuk itu, dalam sebuah pertarungan tidak boleh pemenang jadi arang dan yang kalah jadi abu. Peribahasa itu bisa bermakna dalam satu pertarungan, menang atau kalah sama-sama menderita kerugian.

Yang dalam arti luas, sama-sama tidak berarti. Jika itu terjadi maka akan sangat menyedihkan. Karena, yang sebenarnya, arang banyak dicari orang. Begitu juga abu. Mereka tetap punya fungsi masing-masing.

Menang selalu menghadirkan euforia yang kadang tak terbatas. Padahal pemenang seharusnya tetap menghormati pihak yang kalah sebagai bagian tindakan fair play.

Tidak boleh pemenang menganggap yang kalah tidak ada dan sebaliknya, yang kalah harus bisa menerimanya dan memberikan dukungan kepada pemenang.

Pada akhirnya, pemimpin harus amanah. Harus menjaga tanggung jawab yang diberi, bukan malah membodohi masyarakat dengan melakukan tindakan-tindakan yang melawan hukum, misalkan korupsi.

Apalagi, pilkada serentak yang baru pertama ini dilaksanakan bertepatan dengan Hari Antikorupsi Sedunia. (*)

Naskah ini bisa Anda baca di Tribun Jabar edisi cetak, Jumat (11/12/2015). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved