Sorot
Menabur Harapan
SELALU ada dua kemungkinan besar yang menjadi ending satu pertarungan: kalah dan menang.
Penulis: Giri | Editor: Dedy Herdiana
SELALU ada dua kemungkinan besar yang menjadi ending satu pertarungan: kalah dan menang. Kemungkinan lainnya adalah seri atau imbang.
Bukan hanya untuk pertarungan berupa olahraga, kemungkinan itu juga berlaku untuk hal lain. Termasuk yang baru terjadi dan disebut pesta demokrasi, pilkada serentak.
Pada 9 Desember, sebanyak 269 daerah, di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota menggelar pencoblosan untuk menentukan pasangan pemimpin yang akan menjadi kepala pemerintahan lima tahun ke depan.
Di tengah sikap apatis sebagian masyarakat, pilkada serentak tetap akan menjadi penentu masa depan. Masih ada orang yang peduli untuk menjadi bagian pesta karena menganggap itu adalah hak yang harus digunakan.
Setidaknya, dengan menggunakan hak pilih bisa meminimalisasi kecurangan lebih besar dari pihak-pihak yang ingin berjalan di luar jalur.
Memang masih ada wilayah abu-abu. Pandangan miring kadang muncul dan mengarah kepada mereka yang menggunakan hak suaranya. Jangan-jangan mereka sudah mendapat serangan fajar.
Juga kemungkinan lain. Namun, dengan menggunakan hak pilih, berarti harus ikut mengawasi kinerja pemenang untuk periode kepemimpinannya. Beda dengan golput yang bisa lepas tangan.
Sesuai jumlah daerah yang menggelar pilkada serentak, akan ada 269 pemimpin baru di Indonesia.
Terlepas dia berstatus petahana yang memimpin di wilayah sama periode sebelumnya. Petahana atau incumbent digadang-gadang akan mulus memenangi pertarungan dengan mudah.
Hal itu benar adanya karena sebagian besar mendapat jabatan itu lagi. Tapi ada yang harus mengakui pesaing baru.
Hasan Basri Agus (HBA), Gubernur Jambi periode sebelumnya harus menelan kekalahan atas Zumi Zola, anak mantan gubernur Jambi sebelum HBA, Zulkifli Nurdin, berdasarkan quick count.
Zola yang pernah berstatus artis melangkah ke jabatan orang nomor satu di provinsi setelah menjadi bupati Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi.
Di tangan Zola dan pemimpin baru lain, masa depan masyarakat digantungkan. Mereka tentu punya harapan besar perbaikan di segala sektor bisa terealisasi. Janji kampanye harus diwujudkan meski selama ini hanya lip service.
Pejabat banyak yang mengecewakan masyarakat dengan dalih memperjuangkan hajat hidup orang banyak.
Mereka lupa bisa di posisi yang diinginkan harus lebih dulu melewati titian yang tersusun dari rasa percaya warga dengan memilih di balik bilik kepadanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/sorot-giri-pilkada_20151211_095528.jpg)