Sorot
Menghapus Parlemen
TAN MALAKA, pahlawan nasional yang oleh rezim Orde Baru "dikerdilkan sejarahnya", membuat tulisan panjang Parlemen Atau Soviet.
Penulis: Adityas Annas Azhari | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
TAN MALAKA, pahlawan nasional yang oleh rezim Orde Baru "dikerdilkan sejarahnya", membuat tulisan panjang Parlemen Atau Soviet.
Tulisan tahun 1921, itu memaparkan sejarah parlemen yang ada sejak abad ke-13 di Inggris.
Tan juga mengulas parlemen di Jerman, Belanda, dan Jepang.
Nah, kesimpulan Tan untuk Republik Indonesia yang dicita-citakannya adalah, di Republik ini sebaiknya tidak perlu ada parlemen atau dewan perwakilan!
Mengapa, intelektual kelahiran Suliki, Sumatra Barat pada 1897 itu menolak parlemen? Tan berpandangan, pembagian kekuasaan yang terdiri atas eksekutif, legislatif, dan yudikatif, akan menghasilkan kerusakan.
Pemisahan antara pembuat undang-undang (UU) dengan pelaksana UU justru menimbulkan kesenjangan antara hukum dan realisasi di masyarakat.
Karena si eksekutif langsung berhadapan dengan persoalan sesungguhnya, jadi repot bahkan sulit bergerak lantaran UU yang dibuat oleh parlemen alias dewan perwakilan.
Sekali lagi, ini tentu saja dari kacamata Tan memandang parlemen berdasarkan sejarah pada zaman itu, zaman prakemerdekaan.
Namun justru hal itu jika dikaitkan dengan situasi saat ini, apalagi melihat drama yang disajikan Majelis Kehormatan Dewan (MKD), berikut kelakuan aktor-aktornya atas kasus Freeport, kita bisa menyimpulkan, parlemen justru "masalah" bagi bangsa Indonesia.
Dalam pandangan Tan, jika demokrasi melakukan ritual pemilihan anggota parlemen untuk waktu relatif lama (5 tahun), justru membuat parlemen menjadi kelompok borjuis.
Apalagi dalam waktu lebih dari dua tahun itu, pikiran rakyat jelata bisa berubah-ubah demikian juga kebutuhan rakyat pasti berganti-ganti.
Akibatnya parlemen tidak merespons rakyat, malahan menjadi kelompok elite sendiri.
Parlemen bukan saja terpisah dari rakyat yang memberikan mandat, namun akhirnya memihak pemilik modal besar (baca: kaum kapitalis), bahkan parlemen kemudian berselingkuh dengan eksekutif.
Sebaliknya sistem soviet adalah fusi (persatuan) dan menyelenggarakan negara bersama sesuai kebutuhan kelas buruh dan tani.
Soviet dalam pandangan Tan, bukanlah negara Uni Soviet, namun soviet adalah kebersamaan penyelenggara negara (dewan) untuk melakukan pemeratan kesejahteraan/ekonomi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/sorot-adityas-annas-azhari-rabu-9-desember-2015-1_20151209_143447.jpg)